Beranda Berita Puluhan Ribu Warga Berebut Kue Apem Berharap Keberkahan

Puluhan Ribu Warga Berebut Kue Apem Berharap Keberkahan

81
0

KLATEN, terasmediago.id – Puluhan ribu warga dari berbagai wilayah, mendatangi Oro-oro Klampeyan, Kelurahan/Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (8/8/2025).

Mereka ini, ingin melihat dari dekat tradisi Yaaqowiyyu atau Saparan yang berwujud sebar apem.

Banyak pihak yang percaya, bahwa kue apem hasil rebutan, sangat membawa berkah. Sehingga mereka rela antri agar “rejeki” berupa apem terbang tersebut, bisa tertangkap oleh tangannya.

Namun, perjuangan puluhan ribu warga tersebut, tidak semuanya berhasil. Meski begitu, warga tidak bersedih,  justru mereka gembira karena bisa menyaksikan dari dekat tradisi Saparan ini.

Saparan tahun ini, menurut Ketua Umum Pengelola Pelestari Peninggalan Kyahi Ageng Gribig (P3KAG) KRT Ebta Tri Cahyo, panitia menyediakan 54 ribu biji kue apem, untuk disebar dalam acara tersebut.

“Kue apem sebanyak 54 ribu lebih ini, berasal dari sumbangan warga, sekolah, dan pihak-pihak lain yang kemudian kita kumpulkan untuk dibagikan,” ujar Ebta seusai acara.

Untuk bisa duduk di sekitar panggung Klampeyan, tempat sebar apem tersebut berlangsung, bukanlah perkara yang mudah.

Warga harus berjalan kaki jauh, bila naik transportasi bersama secara rombongan. Untuk parkir lebih dekat, pasti sudah penuh untuk kendaraan yang datang lebih pagi.

Dengan perjuangan yang tidak ringan, tradisi Saparan selalu menyedot perhatian puluhan ribu orang.

“Saya sengaja datang lebih pagi, agar bisa mencari tempat parkir lebih dekat. Lalu di Oro-oro Klampeyan kami duduk di bawah pohon bambu agar tidak kepanasan. Begitu Jumatan selesai, saya mendekat ke panggung meskipun panas,” kata Rahayu, warga dari Trucuk, Klaten.

Warga lain, pasangan suami istri asal Tulung, Klaten, Slamet Wahyono – Suyatmi, mempunyai kepercayaan tersendiri.

Bagi keduanya, apem yang mereka dapatkan bisa membawa berkah. Mereka sudah ke 3 kalinya ikut berebut apem. Beruntung, keduanya dapat 15 biji.

“Wah, perjuangannya berat sekali, seperti orang berantem, berdesakan, berebut, tapi senang. Apalagi ini saya dapat banyak, tambah senang,” cerita Slamet.

Bagi warga yang tidak berhasil berebut apem, bisa pulang membawa oleh-oleh apem. Di sepanjang jalan masuk kampung, banyak warga setempat yang memproduksi apem secara dadakan, sehingga masih hangat dan fresh.

Narasumber Sejarah P3KAG, KRT Moh Daryanta Rekso Hastonodipuro menjelaskan, inilah kehebatan peninggalan Ki Ageng Gribig, tokoh kharismatik penyebar agama Islam di Jatinom dan sekitarnya, bisa menghidupkan perekonomian warga sampai sekarang.

“Di bulan Sapar ini, banyak warga yang membuka lapak dagangan di sepanjang jalan raya Jatinom. Begitu masuk kampung, warga juga membuat kue apem untuk dijual, membuka lahan parkir, dan sebagainya,” kata Daryanta.

Tradisi Budaya Saparan ini, tambah Daryanta, rangkaian kegiatannya berlangsung selama 10 hari.

Diawali dengan mapag bulan Sapar, Ambuka Songsong Winadi, Pembukaan Perayaan Yaaqowiyyu, Kirab Potensi Desa, Festival Jathilan, Festival Drumband, Gejok Lesung, Karnaval Sapi, Siswa SMAN 1 Jatinom membuat 3000 kue apem, sodaqoh seni, sodaqoh apem, dan lain-lain.

Sebagai puncaknya, penyebaran apem pada Jumat siang, usai Sholat Jumatan.

Sehari sebelumnya, menurut Camat Jatinom, Agus Sunyata, yaitu pada Kamis sore (7/8) dua gunungan apem dikirab dari pelataran kantor kecamatan Jatinom, menuju Masjid Gedhe sejauh tiga kilometer.

“Satu malam menginap di masjid dan seusai sholat Jumat dua gunungan apem tersebut dikirab turun ke panggung Oro-oro Klampeyan,” kata Agus.

Hadir Bupati dan Wakil Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo – Benny Indra Ardhianto, anggota DPRRI Ravindra Airlangga, Kapolres Klaten AKBP Nur Cahyo, Komandan Kodim 0723 Klaten, Letkol Inf. Slamet Hardianto, dan pejabat lainnya.

Dalam sambutannya, Bupati Hamenang menegaskan, Yaaqawiyyu telah masuk kalender event tahunan Pemkab Klaten dan akan terus dilestarikan.

“Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi sarat nilai kebersamaan, silaturahmi, dan semangat berbagi,” kata Bupati Hamenang.

Ravindra Airlangga Hartarto trah Ki Ageng Gribig di atas panggung menyampaikan salam dari Ayahandanya Airlangga Hartarto yang tidak sempat hadir dalam tradisi Saparan ini.

Setelah gunungan kue apem didoakan oleh KRT Daryanta, Bupati dan jajaran Forkopimda, Forkopimcam, segera memulai menyebar apem yang disambut antusias warga.

Disusul penyebaran apem dari dua menara setinggi 12 meter oleh para santri.(Hasna)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini