Beranda Berita Ini Pesan Ketua DPD FKKBM, HR Mastur, SH., M.Si di Acara HUT...

Ini Pesan Ketua DPD FKKBM, HR Mastur, SH., M.Si di Acara HUT RI Ke-80

76
0
Jajaran DPD FKKPBM Jateng foto bersama.(Foto:SJ/ Mila)

KENDAL, SAPA Jateng.id– Puluhan anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Forum Komunikasi Keluarga Purnawirawan Baret Merah (FKKPBM) Propinsi Jawa Tengah menggelar upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke- 80 di halaman Oemah Djoglo Mbah Mastur Komplek Pertokoan Pusaka Square jalan pasar terminal Sukorejo Kabupaten Kendal, Minggu, 17 Agustus 2025.

Acara ini, dihadiri langsung Ketua DPD FKKPBM Jateng, HR Mastur, SH., M. Si dan pasukan Satgas FKKPBM Jateng beserta puluhan warga setempat.

Bertindak selaku Inspektur Upacara, Mayor (Purn) H. Nasir dan Komandan Upacara, Kompol Brimob (Purn) Yatin.

Dalam sambutannya, Mayor (Purn) H. Nasir menegaskan bahwa, akan pentingnya arti kemerdekaan yang telah diraih dibabak pertama oleh para pejuang pendiri negeri ini dan babak berikutnya menjadi tanggungjawab bersama.

Ketua DPD FKKPBM Jatengm HR Mastur, SH., M. Si mengatakan, peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 ini, merupakan momentum untuk merefleksikan diri tentang perjalanan bangsa Indonesia selama 80 tahun kemerdekaan.

“Saya mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Semoga semangat kemerdekaan yang telah mengantarkan bangsa kita mencapai kemajuan yang signifikan dapat terus menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus berkontribusi pada pembangunan bangsa,”ungkap HR Mastur.

Menurut HR Mastur, sejarah mencatat, 17 Agustus 1945 adalah titik balik nasib bangsa ini. Dengan keberanian yang melampaui rasa takut, para pendiri bangsa menyatakan kemerdekaan di tengah situasi genting, tanpa jaminan pengakuan dunia.

Delapan puluh tahun kemudian, Indonesia berdiri sebagai negara berdaulat dengan penduduk lebih dari 280 juta jiwa, bentangan alam strategis, dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun, di balik kebanggaan itu, ancaman terhadap kemerdekaan dalam bentuk baru terus mengintai.

“Tantangan global hari ini tidak lagi berwujud senjata kolonial dan invasi militer seperti masa lalu, melainkan penetrasi ekonomi, penguasaan teknologi, dan dominasi politik oleh kekuatan besar dunia,”terang HR Mastur.

Lebih lanjut, HR Mastur menyampaikan, ketergantungan pada impor pangan, energi, dan teknologi membuat kedaulatan rapuh. Perang dagang, krisis iklim, dan kompetisi geopolitik di Indo-Pasifik menuntut untuk tidak hanya pintar bertahan, tetapi juga cerdas mengambil posisi strategis.

Di dalam negeri, lanjut HR Mastur, ancaman disintegrasi dan polarisasi identitas semakin terasa. Politik identitas, penyebaran hoaks, dan ketidak adilan serta ujaran kebencian menggerus kepercayaan antar warga negara.

Di beberapa daerah, ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah daerah dan pusat masih menjadi bara dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membesar.

“Peristiwa yang terjadi baru-baru ini di Kabupaten Pati yang telah menyita perhatian secara nasional merupakan contoh aktual, betapa kita masih rentannya untuk mengamalkan sila ke- 3 Pancasila, yakni “Persatuan Indonesia”.

Dan peristiwa ini bisa saja menjadi Bom Waktu yang mencuat dan merambat ke daerah-daerah lainnya. Maka, HUT RI ke-80 tidak boleh hanya menjadi seremoni.

HUT RI ke- 80 harus menjadi alarm kebangsaan, bahwa kemerdekaan tidak akan bertahan jika rakyat terpecah, jika ekonomi hanya menguntungkan segelintir elite, jika keadilan diperjual belikan dan jika kedaulatan kita dikompromikan demi kepentingan asing.

Para pendiri bangsa mewariskan Pancasila sebagai kompas, dan sila ketiga yakni, Persatuan Indonesila, harus dijaga mati-matian sebagai benteng terakhir.

“Menuju Indonesia Emas 2045, kita membutuhkan kepemimpinan yang visioner sekaligus berani mengambil risiko, kebijakan yang berpihak pada kemandirian bangsa, dan partisipasi aktif masyarakat untuk mengawal setiap langkahnya. Kita tidak bisa lagi berpuas diri dengan capaian masa lalu. Kita harus bersiap menghadapi masa depan yang lebih kompetitif, lebih keras, dan penuh ketidakpastian,”papar HR Mastur.

HR Mastur juga menegaskan, menjaga kemerdekaan ini bukan hanya dengan upacara dan menyanyikan lagu kebangsaan, tetapi dengan memastikan kedaulatan, persatuan, dan keadilan serta kesejahteraan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat, di setiap jengkal tanah air. Karena kemerdekaan yang tidak diperjuangkan setiap hari hanyalah nostalgia, dan nostalgia tidak akan menyelamatkan kita dari arus sejarah.

“Dalam kesempatan ini, saya mengajak seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk terus meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam pembangunan bangsa. Mari kita jadikan momentum HUT RI ke-80 ini sebagai kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan semangat gotong royong dalam membangun Jawa Tengah yang lebih baik,”pintanya.(Mila)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini