Beranda Berita Utama Warga Akui Truk- Truk Pengangkut Tanah Urug Capai 100 Unit Per Hari,...

Warga Akui Truk- Truk Pengangkut Tanah Urug Capai 100 Unit Per Hari, Makanya Jalan Raya Cepat Rusak

332
0

KENDAL, TERASMEDIAGO ID– Truk- truk bermuatan tanah urug setiap hari berlalu lalang melintas di Jalan Raya Kelurahan Kebondalem hingga jalan raya Desa Jatirejo- Desa Winong Kecamatan Ngampel.

Pemandangan ini bisa  dilihat sejak pukul delapan pagi hingga pukul 17.30 WIB dan sudah berlangsung beberapa tahun terakhir.

Jika diukur, perjalanan dari pusat galian C hingga Kelurahan Kebondalem bahkan sampai ke Kawasan Industri Kendal(KIK), diperkirakan mencapai 10 kilo meter.

Ironisnya, meski kondisi ini telah mengakibatkan kerusakan jalan dan polusi udara, masyarakat sekitar seakan membiarkan hal tersebut tetap berjalan yang seakan tidak berdampak apa- apa.

Padahal, dari kasat mata, jalan raya cepat rusak akibat beban muatan yang diangkut oleh truk- truk tersebut dari pagi hingga sore.

Selain itu, polusi udara yang ditimbulkan juga sangat memprihatinkan karena debu beterbangan masuk ke rumah pemukiman warga yang berpotensi bisa mengganggu pernapasan.

Jika rumah agak jauh dari jalan raya dampak debu yang ditimbulkan tidak begitu mengapa, tapi yang rumahnya persis di pinggir jalan raya, kaca rumah, tembok, kendaraan bermotor dan perabot rumah tangga lainnya, akan cepat kotor karena debu begitu cepat menempel.

Dari pantauan di lapangan, sepanjang jalan dari lokasi galian C yang ada di Desa Jatirejo dan Desa Winong ke arah utara hingga terowongan jalan Tol masuk Desa Rejosari Ngampel, banyak rumah yang pintunya tertutup rapat.

Setelah ditelusuri, ternyata ditutupnya pintu itu untuk menghindari adanya debu yang masuk rumah.

Demikian halnya dengan warung. Awalnya banyak warga yang membuka warung makan, namun karena debu itu, akhirnya banyak yang tutup.

Sedangkan keberadaan toko kelontong juga hampir sama, namun masih banyak yang  bertahan buka, tapi barang- barang dagangannya dipenuhi dengan debu.

Salah satu warga bernama Pudin(32) mengatakan, dia membuka toko kelontong sejak tiga tahun terakhir.

Awalnya tokonya ramai banyak yang belanja, tapi sekarang sudah jauh berkurang karena barang dagangannya cepat dipenuhi dengan debu, sehingga makanan yang terbungkus plastik harus sering dia bersihkan dengan kain.

Meski bisa dibersihkan, kondisi ini jelas membuat kurang nyamannya pembeli untuk berbelanja.

“Ya sebetulnya warga banyak yang protes atas kondisi ini, namun karena keluhan warga ini tidak ada yang menanggapi, akhirnya berjalan hingga sekarang dengan rasa kekesalannya,” kata Pudin, Rabu(07/01/2026).

Ditanya terkait selama ini pihak pengelola galian C memberikan sesuatu hal kepada warga yang terdampak polusi udara, Pudin mengaku bahwa pemilik rumah dari sekitar 100 meter dari arah  terowongan Tol Desa Rejosari ke selatan, setiap pemilik rumah mendapat kompensasi sebesar Rp 100 ribu per bulan dari salah satu pengelola galian C.

” Sebetulnya uang sebesar Rp 100 ribu itu tidak ada artinya jika dibanding dengan dampak yang ditimbulkan, tapi bagaimana lagi, warga banyak yang mau menerima,” ujar Pudin.

Pudin mengaku, truk yang melintas di depannya sehari bisa mencapai 100 unit. Padahal truk- truk tersebut bisa ngangkut dua hingga tiga kali sehari.

“Bagaimana jalan tidak cepat rusak mas,” ujar Pudin.

Pudin menyebut bahwa  dari arah rumahnya sampai Desa Jatirejo  hingga Desa Winong setidaknya ada tiga galian C. Apakah ketiga galian C itu izinnya ada atau tidak dia tidak tahu.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kendal, Aris Irwanto yang dihubungi lewat WA, terkait izin lingkungan dari ketiga quary itu, menyampaikan bahwa DLH Kendal tidak punya dokumen terkait IUP, IUJP,  SIPB,  dan sebagainya.

“Terkait  perizinan itu ada di Provinsi  Jawa Tengah,” tegasnya.(Bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini