Beranda Berita Utama Ribuan Umat Hindu Hadiri Malam Siwaratri di Pelataran Candi Merak

Ribuan Umat Hindu Hadiri Malam Siwaratri di Pelataran Candi Merak

157
0

KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Ribuan umat Hindu menghadiri Malam Siwaratri di Pelataran Candi Merak, Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (17/01/2026).

Sayangnya, pelataran candi tak sanggup menampung umat yang hadir di acara tersebut.

Beruntung, umat mendapati gerbang tetangga mereka yaitu gerbang Pesantren, terbuka lebar.

Bukan sekadar menyapa, Pondok Pesantren Mangku Candi Alas Lami resmi menjadi “tuan rumah” kedua bagi umat yang membludak.

Melihat kondisi tersebut, pengasuh pondok pesantren tanpa ragu menyediakan fasilitas Joglo pesantren untuk digunakan sebagai tempat persembahyangan dan istirahat bagi limpahan umat Hindu.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Klaten, Sugeng Sapta Wahyasa, menjelaskan bahwa momentum Siwaratri tahun ini terasa sangat istimewa karena semangat kebersamaannya.

“Siwaratri adalah malam perenungan dosa, sebuah momen di mana umat Hindu melakukan introspeksi diri untuk mengubah kegelapan batin menjadi terang pengetahuan. Ini adalah waktu bagi kita untuk mengendalikan diri melalui brata atau pantangan agar ke depan kita menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkap Sugeng.

Sugeng memaparkan bahwa esensi Siwaratri adalah sebuah ritual penuh makna.

“Melalui Jagra atau tidak tidur semalam suntuk, kita diingatkan untuk selalu waspada dan sadar dalam menjalani kehidupan. Kehadiran saudara-saudara dari pesantren yang memfasilitasi kami malam ini adalah wujud nyata dari terang pengetahuan itu sendiri—yakni kasih sayang antar sesama,” ujarnya.

*Pesantren Sebagai Jembatan Kebersamaan*

Pengasuh Pondok Pesantren Mangku Candi Alas Lami sekaligus Pembina Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB) Klaten, KH M Jazuli A Kasmani atau yang akrab disapa Gus Jaz, menegaskan bahwa kolaborasi ini bukanlah hal baru, melainkan penguatan dari akar persaudaraan yang sudah lama tertanam di Karangnongko.

“Kehadiran pesantren di tengah masyarakat harus memberikan manfaat. Malam ini, kami menyediakan Joglo pondok untuk menampung limpahan umat yang tidak tertampung di candi. Kami ingin menunjukkan bahwa pesantren bisa menjadi penghubung dan perantara bagi seluruh elemen masyarakat,” kata Gus Jaz.

Menurutnya, kunci dari harmoni ini adalah niat dan kemauan untuk bergerak.

“Bibit kebersamaan itu sudah ada di mana-mana, tapi butuh motor penggerak. Malam ini, para tokoh desa dan kecamatan kami ajak untuk menjadi amung tamu (penyambut tamu) bagi saudara-saudara Hindu yang datang. Ini adalah soal visi untuk hidup berdampingan,” tegasnya.

Apresiasi tinggi juga datang dari Rektor Universitas Tidar (UNTIDAR), Prof. Dr. Sugiyarto yang hadir menyaksikan langsung keakraban lintas iman tersebut.

Dia menyebut fenomena di Karangnongko ini sebagai potret asli wajah Indonesia.

“Saya sangat mengapresiasi, ini positif sekali bagi Indonesia dalam menghargai keberagaman. Nggak mungkin ada agama yang mengajarkan kejelekan, dan ketika diimplementasikan secara positif seperti malam ini, ini benar-benar ‘Indonesia banget’,” ungkap Prof. Sugiyarto.

Dirinya meyakini bahwa model kolaborasi seperti di Klaten ini sangat bisa direplikasi di daerah lain, selama didukung oleh kesadaran para tokoh dan infrastruktur komunikasi yang baik.

“Meskipun setiap daerah punya kekhususan, ide senada tentang menghargai perbedaan adalah nilai universal yang bisa dikembangkan di mana pun,” ucapnya.

Malam itu, di bawah temaram lampu Joglo pesantren dan harum dupa dari Candi Merak, Klaten kembali membuktikan diri sebagai laboratorium toleransi yang hidup, di mana perbedaan tidak lagi menjadi pembatas, melainkan perekat doa-doa bagi keselamatan negeri. (Hasna)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini