KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Setiap Bulan Muharram, di berbagai desa ada tradisi bersih dusun, salah satunya di Desa Sajen, Kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah.
Tradisi bersih dusun ini dilaksanakan pada minggu kedua setiap Bulan Muharram, sekaligus mengenang kiprah leluhur mereka, Ki Ageng Brojohanilo. Rangkaian kegiatan berlangsung dua hari, yaitu Rabu – Kamis (24-25/6/2026).
Hari pertama, diawali dengan kirab tiga gunungan hasil bumi dan nasi tumpeng. Kirab diawali dari pohon asem Gedhe yang menurut pitutur sesepuh, adalah tempat tinggal Ki Ageng Brojohanilo.
“Di sekitar pohon asem Gedhe ini dulunya adalah tempat tinggal leluhur kami yaitu Ki Ageng Brojohanilo yang menjadi cikal bakal di desa Sajen,” kata salah seorang sesepuh, Mbah Tugino Parto Winoto.
Tiga gunungan hasil bumi dan tumpeng tersebut, diletakkan di bawah pohon asem Gedhe. Setelah upacara serah terima dan doa bersama, warga mengirab menuju bangsal makam Brojohanilo, yang jaraknya sekitar 200 meter.
Menurut Ketua Panitia, Joko Haryanto, tradisi bersih dusun ini sebagai bentuk wujud syukur warga Desa Sajen atas segala rahmat dan berkah dari Tuhan YME, yang telah memberi banyak panen serta kenikmatan hidup. Harapan kami, semoga semua warga Desa Sajen tetap terjaga hidup tentram, diberi pekerjaan yang baik, serta dijauhkan dari marabahaya,” kata Joko.
Untuk tiga gunungan yang dikirab, mengandung filosofi tersendiri. Gunungan tumpeng sebagai bentuk kekuatan dan gunungan hasil bumi sebagai bentuk kemakmuran.
Setelah tiba di bangsal makam, ratusan warga dihibur dengan tari pembuka Gambyong Parianom. Setelah itu berbagai sambutan, dan ditutup doa bersama dipimpin tokoh agama setempat.
Setelah doa selesai, ratusan warga maju untuk berebut. Untuk gunungan tumpengnya, dibagikan merata dengan pincuk lalu dimakan bersama-sama.
Menurut salah seorang warga, Suratmi (55), dalam rebutan kali ini dia mendapatkan aneka sayuran yang akan ia masak di rumah.
“Ini dapat terong, sawi, tomat, cabe, Alhamdulillah ini namanya ngalab berkah eyang Brojohanilo. Bukan bermaksud sirik, ini tradisi budaya kami, berkahnya ya sayur ini bisa membuat kenyang kami sekeluarga,” ujar Suratmi.
Kegiatan selanjutnya ada kesenian jathilan sampai sore. Malamnya ada pentas kethoprak dengan lakon Damarwulan – Minakjinggo. Hari kedua yaitu Kamis (25/6/2026) ada pentas wayang kulit sehari semalam dengan lakon Baratayudha Jayabinangun yang dijalankan Dalang Ki Kusni Kesdalamono. (Hasna)


