KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Pengajian dalam rangka Haul Kyai Imam Rozi (Mbah Singomanjat) yang ke 181 dan KH Mbah Abdul Mu’id di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Klaten, Jawa Tengah, mencoba menurunkan suhu politik. Hal ini menyusul banyaknya kegaduhan suhu politik dan situasi negara yang memanas untuk beberapa bulan terakhir ini.
Peringatan haul yang diselenggarakan oleh Trah Mbah Kyai Imam Rozi ini, berlangsung setiap tanggal 8 Safar dalam penanggalan Jawa, bertepatan pada hari Rabu (22/07/2026) atau 1448 Hijriah.
Menurut Ketua Panitia Haul, Ahmad Tri Budi Santoso, di pengajian haul kedua tokoh tersebut, panitia ingin menyajikan nuansa kemasyarakatan dan keagamaan, dengan tujuan agar bisa menyejukkan situasi politik tanah air.
“Melihat situasi politik tanah air yang begitu gaduhnya, semoga di pengajian haul Mbah Kyai Imam Rozi dan Mbah Abdul Mu’id ini bisa membawa keberkahan dan menyejukkan di lingkungan masyarakat Klaten dan Indonesia pada umumnya,” kata Budi.
Menurut Budi, rangkaian kegiatan haul ada muqoddaman Alqur’an, hafalan Alqur’an, dan semaan Alqur’an yang dilakukan oleh keluarga dan trah. Ba’da Ashar dilanjutkan khotmil Qur’an di makam Kyai Imam Rozi dan KH Abdul Mu’id.
“Pada ba’da Isya’ diadakan haul yang isinya pembacaan manaqib Mbah Kyai Imam Rozi dan Mbah Abdul Mu’id, dzikir, tahlil, doa serta pengajian yang diisi oleh KH Achmad Soleh Ismail atau Gus Soleh dari Pondok Pesantren Nurul Ali Sempu, Magelang,” ujar Budi.
Budi menyampaikan, Kyai Imam Rozi merupakan salah satu panglima saat terjadi Perang Diponegoro (1825-1830). Pada saat itu, di usianya yang ke 24 tahun, ia memutuskan bergabung bersama Pangeran Diponegoro untuk mengusir penjajah Belanda.
“Di kala itu, beliau sempat tertangkap oleh Belanda di Semarang. Tapi alhamdulilah, berkat perjuangan Pangeran Diponegoro, beliau lalu dilepaskan. Dan kemudian beliau diperintahkan atau disuruh Pangeran Diponegoro untuk mengirimkan suatu nawala atau surat yang ditujukan ke Pakubuwono VI, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat saat itu,” ungkap Budi.
Budi menyatakan, dari salah satu isi surat tersebut disebutkan bahwa Kyai Imam Rozi diminta untuk mengembangkan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah di Surakarta bagian barat.
“Dan alhamdulilah, perintah tersebut dilaksanakan. Beliau akhirnya bertempat di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten ini. Dan beliau diberikan suatu tanah perdikan di daerah ini,” terangnya.
Menantu dari KH Badaruddin Tempursari ini mengatakan, tanah perdikan ini meliputi seluruh Dukuh Tempursari ini. Luasnya sekitar 7 hektar, yang sekarang terdiri dari 2 RW, dimana setiap RW-nya terdiri dari tiga RT.
“Tanah perdikan ini oleh Pemerintah tidak terdeteksi, tidak ada gambarnya. Karena tanah ini harus kembali ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sebab, tanah ini merupakan milik Keraton. Dan sampai saat ini, tanah perdikan ini digunakan untuk makam, masjid, sekolah dan pondok pesantren,” jelasnya.
Suami dari Nur Inayah ini mengemukakan, Kyai Imam Rozi meninggal di usia 71 tahun, dan dimakamkan di makam Tempursari ini pada tahun 1872.
“Dan alhamdulillah, sampai saat ini, makam Kyai Imam Rozi ini terpelihara dengan baik. Setiap tahun, pada tanggal 8 Safar diadakan acara rutin haul beliau, yang sampai saat ini selalu dilakukan. Dan untuk diketahui, simbah KH Abdul Mu’id ini adalah salah satu dari generasi keempat dari Kyai Imam Rozi,” paparnya.
Untuk mengenang perjuangan dan kebaikan Mbah Singomanjat dan Mbah KH Abdul Mu’id, sejumlah kegiatan masih bertahan sampai saat ini, berlokasi di Pondok Pesantren Singomanjat.
Diantaranya pengajian rutin Selasa Pahingan, Minggu Leginan, pengajian thoriqoh, dan pengajian haul Kyai Imam Rozi dan KH Abdul Mu’id itu sendiri.
“Yang hadir ya jamaah dari Klaten. Mereka datang untuk diskusi keagamaan, mengingat jasa kepahlawanan, dan sebagainya. Yang menghadirkan tokoh sejarah untuk mengurai bagaimana kepahlawanan Simbah Imam Rozi yang harus dipotret oleh anak-anak muda generasi sekarang,” ucap Budi.
Dalam setiap haulnya, roda perekonomian warga bergerak secara dinamis. Para pedagang menggelar lapaknya di jalan masuk panggung, sejak sore hari.
“Alhamdulillah, setiap haul Mbah Singomanjat dan Mbah Abdul Mu’id, saya selalu berjualan di sini sampai pengajian selesai. Selain mencari rejeki, saya juga nderek ngalab berkah mendengarkan pengajian dari lapak saya,” kata Suminto, salah seorang pedagang.
Warga sekitar juga mengaku senang, karena di kampungnya ada makam tokoh besar yang sering diziarahi dari berbagai wilayah. (Hasna)


