KENDAL, TERASMEDIAGO.ID– Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari menghadiri acara Pengajian Umum Memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, di Masjid Cheng Ho H. Abdul Rahman, Patung Kuda Putih Sukorejo, Jumat, 19 Juni 2026 sore.
Penitia pengajian umum ini, juga menghadirkan artis senior dari Jakarta, yakni Dewi Yul, yang sekaligus selaku pemberi tausiyah di acara tersebut.
Dalam sambutannya, bupati menyampaikan bahwa, di bulan Muharram 1448 Hijriah ini ada peristiwa penting yang terjadi yaitu hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dari Makkah ke Madinah sehingga awal kalender hijriyah.
Peristiwa tersebut merupakan momen yang sangat bersejarah bagi umat Muslim, karena semenjak itu agama Islam mulai berkembang pesat di sebagian besar Jazirah Arab.
Peringatan Tahun Baru Islam bukanlah sekadar pergantian angka tahun semata. Lebih dari itu, adalah momentum refleksi diri dan evaluasi sejauh mana amal ibadah kita di tahun yang telah lalu.
“Mari kita jadikan semangat hijrah, berpindah dari hal-hal yang kurang baik menuju kebaikan yang lebih sempurna—sebagai spirit baru dalam kehidupan kita sehari-hari,”kata bupati.

Melalui pengajian ini, bupati mengajak untuk bersama-sama memperdalam ilmu agama, mempererat ukhuwah islamiyah, dan mengaplikasikan hikmah hijrah dalam bermasyarakat.
“Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah. Semoga Allah Subhanahu Wata’alla menjaga kesehatan kita, melapangkan rezeki, serta memberikan kekuatan untuk terus meneladani akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam kehidupan sehari-hari,”harapnya.
Sedangkan Dewi Yul, dalam tausiyahnya menekankan pentingnya sikap seorang wanita yang harus berhati hati dalam mendidik anak- anaknya.
Menurutnya, mendidik anak jangan terlalu kasar melainkan harus dengan penuh kasih sayang dan harus bisa menjaga perasaannya.
“Siapa yang bisa menjaga anak untuk bahagia, tentu ibunya, bukan orang lain,”jelas Dewi Yul, sang pelantun lagu “Kau Bukan Dirimu” ini.
Dikatakan Dewi Yul, bahwa seorang ibu yang mampu menjaga kebahagiaan anak, karena ibunya yang melahirkan. Ibunya yang tahu, betapa anak gampang tersinggung. Anak tidak akan ingat kebaikan ibu, kecuali kalau ibu melukai perasaannya.
Dewi Yul menyampaikan, sekuat apa pun pengorbanan orang tua kepada anak, anak itu dititipkan oleh Allah untuk jadi ladang pahala, dan ladang sabar.
“Coba ibu-ibu diingat- ingat. Kalau ibu-ibu ngobrol kebanyakan seorang anak, pasti bilang,”Ah ibu, mama, mbah, kenapa ya kemarin begini-begini”. Kebaikan kita jarang diceritakan,”terang Dewi Yul.
Menurut Dewi Yul, anak menganggap bahwa itu kewajiban orang tua untuk membahagiakan anak. Kalau orang tua kurang memberikan sesuatu atau jajan, anak ngomel. Kalau orangtua kurang memberikan perhatian anak juga komplain.
“Tapi kebaikan orang tua yang begitu penuh, begitu banyak mereka tidak akan pernah ingat. Mungkin nanti kalau mereka sudah berkeluarga dan punya anak, baru ingat cinta kasih orang tua kepadanya,”ungkapnya.
Panitia pelaksana pengajian umum, Hj. Siti Nurjanah mengatakan, wanita memiliki peranan penting dalam rumah tangga. Peran ini bisa dilihat dari berbagai sisi, bukan hanya satu aspek saja.
Dalam banyak keluarga, wanita sering menjadi pusat pengelolaan rumah tangga, mengatur kebutuhan sehari-hari, menjaga keharmonisan, serta memastikan anggota keluarga merasa diperhatikan.
Selain itu, peran sebagai ibu juga sangat besar dalam membentuk karakter, nilai, dan kebiasaan anak sejak dini.
Namun, penting juga untuk melihat bahwa peran ini tidak bersifat kaku. Di zaman sekarang, banyak wanita juga berkontribusi secara ekonomi, berkarier, bahkan menjadi tulang punggung keluarga.
Karena itu, pembagian peran dalam rumah tangga idealnya bersifat fleksibel dan saling mendukung antara pasangan.
“Intinya, peranan wanita itu penting, tetapi keharmonisan rumah tangga biasanya tercapai ketika semua anggota keluarga, baik wanita maupun pria, saling bekerja sama, menghargai, dan berbagi tanggung jawab,”kata Hj. Siti Nurjanah istri dari H. Mastur Darori ini.
Terkait dengan 1 Muharram, Siti Nurjanah menyampaikan bahwa, Muharram adalah hari pertama dalam kalender Hijriah, yaitu kalender yang digunakan oleh umat Islam, menandai tahun baru Islam.
Peristiwa ini berkaitan dengan Hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yaitu perpindahan Nabi Muhammad bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah ini menjadi awal penanggalan Hijriah karena memiliki makna besar dalam sejarah Islam, dari masa penindasan menuju kebebasan dalam beribadah dan membangun masyarakat.
Menurut Siti Nurjanah, 1 Muharam bukan sekadar pergantian tahun, tetapi memiliki nilai spiritual, seperti, Momentum introspeksi diri (muhasabah), memperbaiki amal dan niat, meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Sedangkan amalan yang dianjurkan di bulan Muharam ini yakni, berdoa dan berdzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, puasa sunnah, terutama pada tanggal 9 dan 10 Muharam, yang dikenal sebagai puasa Asyura.(SPW)









