KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Ratusan peserta dari berbagai kota di Indonesia, mengikuti Gladhen Ageng Jemparingan di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.
Gladhen atau lomba panahan tradisional gaya Mataram ini berlangsung di lapangan Desa Pandeyan, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan dibuka oleh Sekda Kabupaten Klaten Jaka Purwanto mewakili Bupati Hamenang Wajar Ismoyo.
Hadir juga Gusti Puger dari Keraton Kasunanan Surakarta, sebagai bentuk dukungan dengan kegiatan ini.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda Jaka Purwanto sangat mengapresiasi kegiatan ini. Dalam olahraga jemparingan banyak mengandung nilai filosofi yang tinggi.
“Gladhen Ageng Jemparingan ini juga sebagai wadah untuk menjaring bibit-bibit unggul atlit panahan tradisional sekaligus melestarikan budaya,” kata Sekda Jaka Purwanto.
Menurut Lilik Bambang Purnomo, selaku Ketua Penyelenggara, kegiatan ini diselenggarakan oleh keluarga dokter Sismadi Partodimulyo sejak tahun 2000.
Keluarga ini sangat cinta dengan olahraga jemparingan. Pelaksanaannya dibawah Yayasan Ash-Shomad Internasional.
Setelah dokter Sismadi tiada, kegiatan tetap dilanjutkan oleh putra-putrinya di bawah Yayasan Sismadi Membangun.
“Kami putra-putri dokter Sismadi tetap melanjutkan kegiatan ini dalam rangka nguri-uri atau melestarikan budaya jemparingan. Kami didukung banyak pihak, Pemkab Klaten dan juga Keraton Kasunanan Surakarta,” kata Jarot Egro Setiawan, Ketua Yayasan Sismadi Membangun.
Dalam melestarikan kegiatan ini, panitia juga melibatkan generasi muda siswa SMAN Jatinom.
Menurut Lilik, panitia membuka dua kategori putra-putri tanpa pemilahan usia.
Panitia mengambil Titis (Juara) 1 sampai 3 putra-putri dan penjemparing yang mempunyai nilai limit tertinggi (penjemparing terbaik).
“Para Titis 1 sampai 3 putra-putri menerima Piagam Sismadi dan sejumlah uang pembinaan. Untuk penjemparing dengan nilai limit tertinggi menerima bebingah (hadiah) sepeda motor, disusul nilai limit selanjutnya mendapat kulkas, dan seterusnya,” ujar Lilik.
Salah seorang peserta asal Surabaya, Ahmad Syafaat mengaku baru 3 bulan belajar jemparingan dan tertarik ikut gladhen ini.
“Saya baru belajar jemparingan di Surabaya, selama tiga bulan dan memutuskan untuk ikut gladhen ini. Niat saya untuk menjajal kemampuan dan menambah paseduluran,” ucap Ahmad.
Kegiatan ini berimbas pada geliat perekonomian warga sekitar yang membuka lapak jualan untuk para peserta. (Hasna)


