KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Ratusan warga Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara, Klaten, menggelar tradisi bersih desa di Sendang Simbarjoyo, Jumat(19/06/2026).
Tradisi ini digelar setiap hari Jumat pertama Bulan Muharram.
Warga mulai memadati area Sendang Simbarjoyo setelah usai Jumatan. Berbagai pementasan kesenian tersaji di atas panggung. Tari gambyong sebagai pembuka acara, diiringi pemain karawitan.
Dalam tradisi turun temurun tersebut, warga membawa uborampe kenduri yang berisi nasi gurih, ingkung ayam, buah pisang raja, lauk sambel goreng, telur, dan lain-lain.
Setelah kenduri selesai, nasi tersebut dibagikan dengan wadah ‘takir’ lalu dibagikan ke semua warga dan tamu undangan.
Di lokasi yang lain, panitia juga membagikan 2 ton ikan untuk anak-anak. Mereka membawa plastik untuk memperoleh beberapa ekor ikan.
Menurut tokoh masyarakat setempat, Sunarno, tradisi bersih desa sekaligus bersih Sendang Simbarjoyo ini, sebagai bentuk syukur kepada Tuhan YME, atas keberlimpahan air bersih untuk kehidupan warga. Juga sekaligus untuk mempererat silaturahmi antar warga, serta simbol berbagi.
“Tradisi ini sudah ada sejak nenek moyang kami dulu, kini sebagai generasi selanjutnya, tinggal meneruskan saja untuk nguri-uri budaya,” jelas Sunarno.
Mantan Kades Jonggrangan ini, juga menyampaikan, tahun lalu dengan melepas ratusan ekor burung ke alam bebas, namun untuk tahun ini melepas ribuan ekor bibit ikan ke dalam sendang, untuk menjaga ekosistem lingkungan.
Puncak tradisi, saat tiga gunungan diarak panitia, masuk di depan panggung kehormatan. Tiga gunungan tersebut berisi hasil bumi seperti ketela, singkong, jagung, dan buah. Gunungan ke dua berisi sayur mayur dan yang ke tiga berisi jajanan anak-anak.
Setelah didoakan tokoh agama, ratusan warga langsung merengsek berebut. Dalam waktu sekejap, tiga gunungan ludes. Ada kepercayaan di tengah-tengah masyarakat, bahwa dengan ikut rebutan itu mencari atau ngalab berkah.
Seperti pengakuan seorang warga setempat, Asnila (40), ia rela berdesakan demi memperoleh sayur mayur.
“Alhamdulillah, meski berdesakan, saya dapat terong, kacang panjang, sawi, lombok, dan uang Rp5 ribu. Rasanya senang banget,” kata Asnila.
Asnila berharap, tradisi ini tetap diadakan setiap tahun, selain untuk menambah kerukunan antar warga juga sebagai warisan kebudayaan. (Hasna)


