Beranda Berita Utama Bupati Dorong Eduwisata Budidaya Jamur Tiram di Desa Glagahwangi

Bupati Dorong Eduwisata Budidaya Jamur Tiram di Desa Glagahwangi

81
0

KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo beserta jajaran melakukan kunjungan kerja ke Desa Glagahwangi, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, Senin (10/11/2025).

Kunker yang dikemas dengan dialog “Sambung Roso” tersebut, dihadiri ratusan warga dan pelaku UMKM se-Kecamatan Polanharjo.

Kegiatan Sambung Roso ini dijadikan sarana oleh bupati, agar warga bisa berdialog santai untuk menyampaikan keluh kesah, sehingga segera ada solusi.

Bupati juga mendorong dan memihaki potensi yang ada di Desa Glagahwangi yaitu budidaya jamur tiram.

“Setiap desa potensinya tidak sama. Kembangkan saja apa yang cocok di sini. Kalau budidaya jamur, ayo dikembangkan secara maksimal,” kata bupati.

Dengan membranding Desa Glagahwangi menjadi penghasil jamur tiram, lanjut bupati, sehingga aneka olahan dari jamur bisa dibuat.

“Nah, nanti bila orang lain ingin menikmati aneka olahan jamur dibuat tongseng, sate, rendang, keripik, seblak, nanti bisa datang ke sini,” kata bupati.

Dalam kesempatan tersebut, Kades Glagahwangi, Desi Harini menyampaikan beberapa hal kepada Bupati Klaten, antara lain meminta pemihakan perbaikan infrastruktur jalan yang ambrol dan longsor.

“Kami berharap bupati segera bertindak untuk memperbaiki jalan ambrol dan longsor tersebut,” jelas Kades Desi.

Desa Glagah, lanjut Desi, melalui Bumdes Muncar kini membudidayakan jamur tiram yang sekaligus juga sebagai sarana eduwisata.

“Budidaya jamur masuk dalam program ketahanan pangan. Ada 10.000 baglog jamur yang sudah kami miliki dan sudah panen,” lanjut Kades Desi.

Unit usaha baru tersebut berada di kawasan Taman Tumenggung Glagahwangi, yang telah memiliki berbagai fasilitas seperti pendopo, panggung, gazebo, arena bermain anak, dan rumah makan.

Direktur BUMDes Muncar Glagahwangi, Nur Fadillah, mengatakan bahwa budidaya jamur tiram dipilih karena memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan sekaligus mendukung ketahanan pangan desa.

Selain itu, jamur tiram juga memiliki kandungan gizi tinggi, seperti protein, serat, dan vitamin B.

“Usaha ini sudah kami rintis setahun lalu, sesuai potensi yang ada. Karena desa kami kurang cocok untuk potensi wisata alam, jadi kami fokus ke usaha budidaya jamur,” ujarnya.

Jamur dibudidaya dalam kumbung berukuran 6 x 20 meter, yang mampu menampung hingga 10.000 baglog atau media tanam jamur.

Nur Fadillah memerinci, dari 10.000 baglog itu bisa menghasilkan sekitar 4.000 kilogram jamur tiram, dengan harga jual Rp12.000–Rp15.000 per kilogramnya.

“Baglog jamur bisa panen terus menerus selama 3 bulan. Sehingga, dalam satu periode tanam, pendapatan bisa mencapai Rp48 juta,” ujar Nur Fadillah.

Selain dijual mentah, hasil jamur tiram tersebut juga diolah jamur krispi, rendang jamur, sate jamur dan yang terbaru adalah untuk topping menu baru yakni seblak.

Rencana selanjutkan, BUMDes Muncar berencana mengembangkan usaha ini menjadi wisata edukasi.

Pengunjung bisa belajar langsung ke kumbung untuk mengetahui proses budidaya jamur tiram, mulai dari persiapan media tanam hingga panen, serta mencicipi berbagai olahan jamur di rumah makan samping kumbung.(Hasna)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini