KENDAL, TERASMEDIAGO.ID-Persoalan sampah saat ini menjadi salah satu tantangan terbesar. Setiap hari jutaan ton sampah dihasilkan di Indonesia.
Tanpa kesadaran kolektif dari semua pihak, sampah bisa berpotensi memicu krisis lingkungan, krisis kesehatan dan sosial yang mengancam kualitas hidup generasi kini dan mendatang.
Hal tersebut dikatakan Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari pada acara “Launching Manajemen Sampah Terpadu dan Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Petasol, dan Kompetisi PFSAINS 2026” di TPS 3R Rejomulyo, Desa Margorejo, Kecamatan Cepiring, Kamis(11/06/ 2026) sore.
“Tahun 2026 ini, kita dituntut untuk bergerak menuju Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Kita tidak bisa lagi bekerja secara biasa-biasa saja. Dan kita tidak bisa lagi sekadar kumpul, angkut, lalu buang ke TPA. Pengelolaan sampah harus terus ditingkatkan menuju sistem pengelolaan hulu-hilir yang modern, inovatif, dan berkelanjutan,”papar bupati.
Bupati mengapresiasi setinggi-tingginya kepada BRIN RI, Pertamina Foundation, serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi menghadirkan inovasi pengolahan sampah melalui Teknologi Faspol 5.0 (Fast Pyrolysis).
“Inovasi ini sangat menarik karena mampu mengubah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar alternatif bernama Petasol. Bahan bakar ini berpotensi menjadi solusi atas dua persoalan sekaligus, yaitu mengurangi timbulan sampah plastik dan menghasilkan energi yang bermanfaat,”ujar bupati.
Kegiatan launching teknologi pirolisis dalam pengolahan sampah menjadi Petasol yang dikembangkan di TPS 3R Dukuh Rejomulyo, Desa Margorejo ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan inovasi desa berbasis lingkungan dan teknologi.
Selain peluncuran Petasol, kegiatan ini juga menampilkan hasil pengembangan varietas tanaman toleran salinitas yang dirancang untuk mendukung optimalisasi lahan pesisir dan lahan marjinal.
“Hal ini menunjukkan bahwa desa mampu berinovasi. Dengan dukungan jajaran Pemerintah, swasta dan berbagai pihak, kami berharap launching ini menjadi inspirasi bagi desa dan daerah lain dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi. Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mendukung berbagai program pengelolaan sampah yang telah dijalankan Pemerintah,”ungkap bupati.
Menurut bupati, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh partisipasi aktif masyarakat.
“Mari bersama-sama kita wujudkan Indonesia yang bersih, sehat, dan asri. Semoga ikhtiar dan kolaborasi ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan,”ajak bupati.
Wakil Menteri(Wamen) Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Dr. Hanif Faisol Nurofiq, mengatakan, saat ini Indonesia benar-benar dalam kedaruratan sampah yang sangat luar biasa.
“Kita memiliki produksi sampah satu harinya mencapai 143.000 ton. Jadi kalau dikalikan 1 tahun hampir 55 juta ton dalam satu tahun. Sayangnya, sampah tersebut yang mampu kita kelola baru 26% sampai hari ini. Sisanya hampir 70% berada di sawah-sawah, di sungai-sungai dan di selokan kita,”katanya.
Sejatinya sampah ini bukan hanya teknologi, tetapi yang menjadi masalah manajemen kita belum berpihak kepada sampah. Banyak daerah yang menganggarkan APBN-nya kurang dari satu persen, untuk sampah. Padahal sampah itu semuanya memiliki angka konversi yang tepat, rata-rata 0,5- 0,7 per kilogram, per orang, per hari.
“Untuk itu, kita berbangga pada hari ini ada inovasi yang kemudian disusun bersama melalui Program Pertamina Foundation yang kemudian menghasilkan inovasi yang cukup sangat berarti ini. Karena terlalu pentingnya inovasi ini, meskipun oleh Bupati ibu Bupati di taruh di tempat pelosok, maka bapak menteri kesehatan bidang pangan Zulkifli Hasan memerintahkan saya harus sampai di tempat ini,”ungkap Hanif Faisol Nurofiq.
Hanif Faisol menyampaikan bahwa, seumpama Kabupaten Kendal dengan populasi penduduknya mencapai 1 juta sekian, maka tinggal dikalikan 0,4 atau 0,5.
“Catatan saya, Kabupaten Kendal ini memproduksi sampah harian di angka 437 ton per hari. Ini serius harus kita sampaikan. Ini bukan hanya tugas bupati, meskipun di dalam undang-undang nomor 18 tahun 2008, ini semuanya wajib dikoordinir oleh bupati. Tetapi sampah ini menjadi kewajiban personal, dan kewajiban kolektif yang hari ini kita buktikan di sini. Justru manajemen inilah yang paling penting dari semua parameter, variabel penanganan sampah kita,”terang Hanif.
Menurut Hanif, manajemen sampah sebagus apa pun, secanggih apa pun teknologi yang dihadirkan oleh Pertamina Foundation yang dibangun oleh BRIN, maka akan terlantar pada saat manjemennya tidak dicermati dengan sungguh- sungguh.(SPW)









