KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI), Junaedhi Mulyono bertolak ke Pemerintah Rakyat Tiongkok (RRT) pada 14 Juli sampai 4 Agustus 2026 lalu.
Pria yang biasa disapa Joned tersebut bertolak ke Tiongkok bersama 25 Kades terbaik dari seluruh Indonesia untuk mengikuti Program Pelatihan Kader Desa Indonesia.
Program tersebut atas undangan dari Kementerian Perdagangan RRT dan diselenggarakan oleh Pusat Layanan Kerjasama Internasional, Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan RRT serta didanai sepenuhnya oleh Pemerintah RRT serta dikoordinasikan oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia (Kemendes PDT RI) dan Kedutaan Besar RRT di Indonesia.
Selama dirinya di Tongkok, ia menerima materi tentang pembangunan desa, pengembangan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, sumber daya manusia, penerapan teknologi pertanian modern, dan lain-lain.
“Alhamdulillah, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Pemerintah Rakyat Tiongkok, Kemendes PDT, dan semua pihak yang mendukung program ini. Saya bersama 25 Kepala Desa terbaik dari seluruh Indonesia, bisa mengikuti Program Pelatihan Kader Desa Indonesia tahun 2026 ini selama 21 hari. Alhamdulillah, banyak ilmu yang kami dapatkan untuk kemajuan desa di Indonesia,” ujar Joned.
Sebagai Ketua APDESI periode 2026 – 2031, banyak hal yang ia dapatkan dari Negeri Tirai Bambu tersebut. Program Pelatihan Kader Desa Indonesia di Tiongkok akan berlangsung tiga gelombang, yang sudah diawali 25 Kades terbaik tersebut. Sepuluh peserta di antaranya, juga anggota APDESI.
“Gelombang kedua, pesertanya semua karyawan Kemendes PDT RI dan gelombang ketiga pesertanya perwakilan desa-desa yang berprestasi,” ucap Joned.
Selain menerima pembelajaran dalam kelas, para peserta juga diajak studi lapangan ke sejumlah kawasan pertanian unggulan dan desa-desa maju.
Ada tiga provinsi yang dikunjungi peserta yaitu Beijing, Yunnan, dan Chansa Hunan. Di lokasi tersebut, para peserta mempelajari berbagai model pembangunan desa dan pengembangan sektor pertanian yang telah berkembang pesat.
“Teknologi pertanian di Tiongkok sudah canggih. Tenaga manusia sangat minim. Yang ada yaitu para operator untuk menjalankan teknologi. Misalnya, menjalankan drone untuk pemupukan, packing pasca panen, dan sebagainya.
Setelah berkunjung ke Tiongkok dan memperoleh banyak ilmu, Joned mengajak semua rekan-rekannya Kades seluruh Indonesia untuk menciptakan peluang-peluang yang bisa digarap di masing-masing desa.
“Jangan hanya mengandalkan dana desa saja, namun kita harus menggali potensi yang ada di desa masing-masing,” ajak Joned.
Meskipun tidak mempunyai sumber daya air untuk wisata misalnya, desa tersebut harus menggali potensinya. Misalnya budidaya pisang, budidaya mawar, buah, sayur, peternakan dan sebagainya.
Dan bagi desa-desa yang sudah maju, himbau Joned, harus membuka diri menerima kunjungan dari desa lainnya untuk studi tiru.
“Perekonomian yang kuat dibangun dari desa. Sesama desa harus saling bersinergi,” ungkapnya.
Dari program yang ia pelajari di Tiongkok, Joned menjadi tahu bahwa Pemerintah Indonesia yang dipimpin Presiden Prabowo, ingin mengadopsi metode tersebut.
Maka diterapkanlah Koperasi Desa/Kota Merah Putih (KDKMP) di seluruh Indonesia. Arah program KDKMP ke depan, akan menyerupai program yang sudah diterapkan pemerintah RRT.
“Hari ini KDKMP Indonesia adalah 40 tahun yang lalu program tersebut di Tiongkok. Jadi ini program untuk anak cucu kelak, kita harus membangun sejak sekarang,” ujarnya.
Sepengetahuan Joned, tidak hanya Tiongkok saja yang memperkuat perekonomian berbasis dari desa, namun juga ada negara lainnya seperti Jerman, Jepang, Itali, dan lain-lain.
Setelah mainnya jauh, belajarnya jauh sampai ke Negeri China, Joned berharap banyak Kades yang terbuka wawasannya untuk membangun desa dengan inovasi-inovasi baru dan mensukseskan program pemerintah, sehingga akan lahir “tiongkok-tiongkok” baru di Indonesia. (Hasna)









