KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Tingginya permintaan SPPG akan ikan air tawar, membuat petani ikan di wilayah Janti, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah mengaku kewalahan. Solusinya, pasokan ke SPPG digilir.
Hal tersebut dialami oleh petani ikan air tawar di Desa Janti, Hana Rusdiyansah (45).
Bersama keluarganya, ia mengelola 50 kolam di Desa Janti dan keramba di pinggir Waduk Cengklik, Boyolali. Ikan yang dibudidayakan ada ikan lele, nila, dan patin.
Setiap hari, kapasitas panennya 3 ton untuk memenuhi permintaan pasar dan SPPG.
“Setiap hari rata-rata kapasitas panen kami 3 ton untuk memenuhi kebutuhan di pasar Solo, Semarang, dan Demak. Juga untuk memenuhi permintaan dari berbagai SPPG,” jelas Hana, saat ditemui di kolamnya Desa Janti, Selasa (21/7/2026).
Dalam satu hari, dirinya harus memasok ke lima sampai 10 SPPG yang membutuhkan sekitar 2 ton. Permintaannya ada yang dalam bentuk ikan utuh atau yang sudah difilet.
“Ikan utuh yang sudah kita bersihkan, biasanya untuk menu besar siswa SMP dan SMA. Untuk daging filetnya biasanya untuk anak-anak SD dan TK,” ujarnya.
Ikan air tawar dari Janti dan sekitarnya, terutama ikan nila, memang banyak dicari konsumen.
Menurut penjelasan Hana, karena berlimpahnya sumber air yang bening dan melimpah, sangat cocok untuk budidaya ikan nila.
Di sini ada larasati singkatan dari nila ras Janti yang dulu dikembangkan oleh Balai Benih Ikan (BBI) Jawa Tengah yang kolamnya berlokasi di Desa Janti.
“Cirikhas ikan larasati ini bobotnya lumayan, daging tebal, teksturnya lembut dan lentur, sehingga kalau dimasak tidak mudah ambyar,” tuturnya.
Untuk mendapatkan larasati, konsumen harus merogoh kocek Rp30.000 per kilonya bila dari petani langsung.
Hana mengakui, dengan adanya MBG ini, permintaan akan ikan air tawar untuk pemenuhan protein MBG dari SPPG, sangat banyak.
Ada ratusan SPPG yang sudah menjalin kerja sama dengannya. Bahkan banyak pula yang ia tolak karena tidak mampu memenuhi pasokan.
“Nanti kalau dipaksa semua SPPG kami penuhi, ketersediaan nila menjadi langka yang nantinya berakibat melejitnya harga di kemudian hari,” lanjutnya.
Untuk menjaga kestabilan harga dan ketersediaan nila, kondisi seperti ini dirasakan sudah memadai. Harga masih terjangkau dan petani ikan tetap untung, sehingga keberlangsungan usaha terjaga. (Hasna)









