Beranda Berita Utama Ratusan Warga Konang Adakan Sakral Sadranan di Makam Panembahan Menanglase

Ratusan Warga Konang Adakan Sakral Sadranan di Makam Panembahan Menanglase

133
0

KLATEN, TERASMEDIAGO.ID– Ratusan warga Dukuh Konang, Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, menyelenggarakan tradisi tahunan Sakral Sadranan di komplek makam Panembahan Menanglase, yang merupakan murid kesayangan Sunan Pandanaran, Jumat sampai Senin (30/1 sampai 2/2/2026).

Heru Kusnadi selaku cucu trah Panembahan Menanglase, sekaligus Kaur Desa Kebon, mengatakan, rangkaian kegiatan Sadranan diawali dengan besik makam atau membersihkan makam, tarub, membaca tahlil versi Jawa.

Selain itu ada juga kegiatan dari umat Katolik Santo Mikael dan Santo Yusuf Desa Kebon. Sebagai puncaknya upacara dan kirab 4 gunungan sayur mayur hasil bumi dan pertunjukan wayang kulit oleh Ki Dalang Tri Harni Sugondo.

“Sakral Sadranan ini kita adakan rutin setiap tanggal 14 Ruwah penanggalan Jawa, yaitu sadranan pertama di Bayat, dengan tujuan mempererat silaturahmi, berkirim doa kepada leluhur, dan menjaga melestarikan budaya,” jelas Heru Kusnadi.

Sebagai urut-urutannya, empat gunungan hasil bumi tersebut diletakkan di halaman Masjid Konang. Kemudian dikirab oleh jajaran panitia dan utusan dari Keraton Kasunanan Surakarta.
Peserta kirab berjalan sepanjang 200 meter menuju komplek makam. Selain empat gunungan, juga ada jajanan pasar ditaruh dalam judeng yang dipikul.

Sesampai di bangsal, empat gunungan diatur sedemikian rupa. Lalu satu persatu pemangku wilayah memberi sambutan. Sambutan dari Camat Bayat, Ketua Panitia, perwakilan dari ahli waris Panembahan Menanglase yaitu Herlambang.

Selesai didoakan, empat gunungan tersebut diletakkan di lokasi berbeda, agar semua yang hadir bisa leluasa ikut serta. Dalam waktu sekejap, empat gunungan yang berisi sayur mayur, buah, dan jajanan anak-anak tersebut, ludes tak tersisa.

“Dengan momen sadranan ini, semoga hajat warga bisa terlaksana,” kata Heru.
Sementara Herlambang yang mewakili trah mengucapkan banyak terimakasih, karena warga Dukuh Konang yang rumahnya jauh atau merantau, menyempatkan diri untuk pulang.

“Kita bisa berada di makam Eyang Panembahan Menanglase, disatukan oleh tradisi sadranan Semoga kekompakan, sifat gotong royong, selalu kita jaga sampai kapanpun,” ucap Herlambang.

Salah seorang warga, Yuli Arini (45), merasa senang waktu ikut berebut bisa memperoleh aneka sayuran. Hal ini diyakini bisa membawa berkah.

“Ya seneng bisa memperoleh aneka sayuran, nanti buat masak di rumah, bisa membawa berkah,” kata Yuli.

Selain itu, setiap keluarga besar membawa uborampe nyadran. Seperti nasi tumpeng, ingkung, lauk sambel goreng, kerupuk, jajanan pasar, aneka minuman dan sebagainya.
Mumpung keluarga besar kumpul, mereka makan bersama. Wajah mereka sumringah bahagia, karena bisa bertemu sanak saudara.

Itulah mengapa, warga Konang tetap melestarikan budaya sadranan, karena manfaatnya banyak sekali. Untuk sejarah Panembahan Menanglase, menurut pemerhati budaya, Suryadipoyudho, eyang merupakan cucu Sunan Pandanaran, putra dari Panembahan Jiwo.

Panembahan Menanglase mendapat tugas menyiarkan agama Islam di wilayah Desa Kebon. Ia memilih bertempat tinggal di atas bukit tertinggi di wilayah tersebut. Di tempat tersebut, eyang mendirikan pemondokan, mushola, dan tempat bertapa. (Hasna)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini