Beranda Berita Utama Sambut Ramadhan, Warga Desa Puluhan Trucuk Adakan Tradisi Sadranan

Sambut Ramadhan, Warga Desa Puluhan Trucuk Adakan Tradisi Sadranan

148
0

KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Di Desa Puluhan, Kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, warga menggelar tradisi Sadranan atau Ruwahan yang bertempat di Masjid Tiban atau Masjid Agung Puluhan, Rabu (11/2/2026).

Tradisi Sadranan ditandai dengan kenduri bersama dan mengarak 5 gunungan keliling kampung. Juga menggelar wayang kulit semalam suntuk sebagai sarana tuntunan dan tontonan.

Dalam setiap tahunnya, gunungan yang dikirab jumlahnya tidak sama.

Namun untuk Sadranan tahun 2026 ini, panitia menyediakan 5 gunungan yang berasal dari sumbangsih warga.

Ada 4 gunungan hasil bumi berupa buah, sayur mayur, singkong, dan sebagainya. Sedang dua gunungan lainnya berisi snack untuk anak-anak.

Menurut Takmir Masjid Agung Puluhan, Hardiman, tradisi ini sudah dilakukan secara turun temurun. Sampai sekarang, di tengah gempuran jaman modern, ratusan warga masih guyub rukun melestarikan tradisi leluhur ini.

Sekitar pukul 2 siang, enam gunungan keluar dari halaman masjid, dikirab keliling kampung. Di sepanjang jalan, warga menyaksikannya dan mengambil video dengan hape seluler.

Setelah keliling kampung, peserta kirab lalu masuk lagi ke halaman masjid. Oleh tokoh agama atau Takmir Masjid, gunungan tersebut didoakan agar semakin berkah dan barokah.

Tak lama kemudian, dalam waktu sekejap, gunungan tersebut ludes tak tersisa, diperebutkan ratusan warga, baik tua, muda, maupun anak-anak.

“Tahun ini ada 6 gunungan yang kami kirab, 4 hasil bumi dan 2 jajanan untuk anak-anak. Mengapa kami pisah? Biar anak-anak tidak berebut bercampur dengan orang dewasa, karena faktor keamanan, takut terdesak atau jatuh. Juga sekaligus untuk memperkenalkan pada anak, pentingnya menjaga tradisi leluhur,” ujar Hardiman.

Mengapa gunungan harus diarak keliling kampung dan diperebutkan warga? Hardiman menjelaskan, itu sebagai simbolis untuk memberitahu warga, kalau saat ini sudah mendekati bulan Ramadhan. Sedang gunungan diperebutkan warga, itu sebagai simbol sedekah, agar semua warga bisa menikmati hasil bumi.

Sadranan yang juga sekaligus bersih desa ini, selain untuk mengirim doa kepada leluhur, juga sebagai bentuk rasa syukur karena Tuhan telah memberi banyak kenikmatan, panen melimpah, juga untuk melestarikan tradisi budaya Jawa.

Di teras masjid, ratusan warga juga menggelar kenduri bersama dengan uborampe nasi putih, lauk pauk sambel goreng kentang, rempeyek, telur, tempe, semur, buah-buahan, ingkung, dan sebagainya.

Warga lalu makan bersama di masjid tersebut, dengan wajah gembira.

Salah seorang warga dari Yogyakarta, Minuk, mengaku datang ke Puluhan ini untuk nyekar leluhurnya. Lalu menyempatkan diri mampir ke Masjid Puluhan untuk ikut berebut.

“Ini saya mendapatkan aneka sayuran, nanti akan saya buat memasak di rumah. Meski hasilnya tak seberapa, tapi rasanya seru dan senang bisa mendapatkan semua ini,” katanya.

Untuk sejarah singkat Masjid Agung Puluhan ini, adalah peninggalan Sunan Kalijaga yang dibangun abad 14 atau 1450-an.

Masjid seluas 600-800 meter persegi ini, di dalamnya ada 8 tiang kayu penyangga berbentuk silinder dan 4 tiang utama di tengah. (Hasna)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini