Beranda Berita Utama Kolaborasi Mahasiswa, Pers dan LBH Syarat Mutlak agar Ruang Sipil Tidak Mati

Kolaborasi Mahasiswa, Pers dan LBH Syarat Mutlak agar Ruang Sipil Tidak Mati

232
0

KENDAL, TERASMEDIAGO.ID-Diskusi bertajuk “Menakar Ulang Peran Strategis dalam Menjaga Ruang Sipil”, digelar di Kantor YLBH Putra Nusantara Komplek Pertokoan Kendal Permai, Kota Kendal, Jumat, 27 Februari 2026.

Diskusi ini, mempertemukan tiga elemen yakni, mahasiswa sebagai penggerak, pers sebagai penyampai kebenaran, dan lembaga bantuan hukum sebagai benteng keadilan.

Kegiatan ini dihadiri berbagai elemen mahasiswa, termasuk perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Diskusi ini menghadirkan narasumber yang membedah persoalan dari berbagai sudut pandang, yaitu, Presiden BEM UGM, Tiyo Ardianto.

Tiyo menekankan bahwa mahasiswa bukan sekadar akademisi di dalam kelas, melainkan agent of change yang memikul tanggung jawab moral untuk mengawal setiap kebijakan publik agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.

Irsyad Akil (Jurnalis), menyoroti peran pers sebagai pilar keempat demokrasi. Bahwa, pers memiliki kewajiban menjaga fungsi kontrol sosial dan memastikan kebenaran tetap tersampaikan meski di bawah bayang-bayang tekanan.

Roza Baguss (YLBH Putra Nusantara),  menggarisbawahi pentingnya advokasi yang konsisten dalam memastikan bahwa hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Saroji, Ketua YLBH Putra Nusantara Kabupaten Kendal, menekankan pentingnya wadah bagi generasi muda untuk bersuara.

Dalam dialog yang hangat ini, disepakati bahwa kolaborasi antara mahasiswa, pers dan LBH adalah syarat mutlak agar ruang sipil tidak mati.

Ketiganya sepakat bahwa saat ini diperlukan keberanian untuk melakukan “takar ulang” terhadap posisi strategis masing-masing agar tetap kritis di tengah arus sosial-politik yang dinamis.

Tanpa pers yang berani, gerakan mahasiswa kehilangan gaung. Tanpa pendampingan hukum yang kuat, aktivis rentan dikriminalisasi.

Dan tanpa semangat mahasiswa, demokrasi kehilangan motor penggeraknya.

Saroji, yang juga bertindak sebagai fasilitator kegiatan, menyampaikan bahwa inisiatif adanya kegiatan ini murni lahir dari keinginan untuk memberikan ruang aman bagi pihak penggagas.

“Saya di sini selaku tuan rumah hanya ingin memberikan ruang bagi diskusi ini. Tujuannya agar adik-adik mahasiswa memiliki wadah yang tepat untuk mengutarakan ‘unek-unek’ serta keresahan mereka terkait kondisi demokrasi di Indonesia saat ini. Kami ingin memastikan api kritis ini tetap hidup dalam koridor yang konstruktif,” ungkap Saroji.

Saroji berharap, kegiatan ini menjadi pemantik bagi gerakan serupa di berbagai daerah, mempertegas bahwa ruang sipil harus terus diperjuangkan demi masa depan demokrasi Indonesia yang lebih sehat dan terbuka.(SPW)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini