Beranda Berita Utama Diguyur Hujan, Gerhana Bulan Tidak Terlihat dari Observatorium PPMI Assalaam

Diguyur Hujan, Gerhana Bulan Tidak Terlihat dari Observatorium PPMI Assalaam

104
0

SUKOHARJO, TERASMEDIAGO.ID – Pengamatan Gerhana Bulan Total (GBT) yang berlangsung di Observatorium Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, Selasa 3 Maret 2026 tidak terlihat sama sekali.

Hal ini dikarenakan hujan deras mengguyur langit Solo Raya.

Dalam pengamatan tersebut, Assalaam Observatory bekerja sama dengan lima titik observasi strategis untuk melakukan live streaming bersama dengan tema “Membedah Rahasia Ayat Kauniyah”.

Yaitu Observatorium SD Muhammadiyah An-Najah Jatinom (Klaten), Observatorium Ponpes MTA Karanganyar, Observatorium Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan Kudus, Observatorium Ponpes Al-Islam Joresan (Ponorogo), dan Observatorium Ponpes Maskumambang (Gresik).

“Keberhasilannya koordinasi enam Observatorium ini menunjukkan kemajuan signifikan jejaring astronomi santri dalam mengedukasi masyarakat mengenai fenomena langit secara ilmiah maupun syar’i,” ujar Kepala Pusat Astronomi Assalaam, AR Sugeng Riyadi.

Dari ke enam observatorium tersebut, hanya Observatorium Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan Kudus yang berhasil menembus celah langit dan menangkap visual fase totalitas.

Fase totalitas gerhana bulan ini bisa disaksikan melalui live streaming pukul 18:49 WIB.

Dokumentasi visual karya Ustadz Nur Sidqon tersebut, memperlihatkan bulan yang merona merah tembaga di tengah durasi totalitas 57 menit (puncak pada pukul 19:03 WIB).

Menurut AR Sugeng Riyadi, bila cuaca cerah, visual GBT bisa disaksikan selama satu jam, yaitu dari pukul 18.06 sampai 19.03 WIB.

Yang menarik GBT kali ini, terjadi pada bulan Ramadan, sehingga banyak orang menebak bahwa bulan purnama adalah pertengahan bulan.

Dan itu menjadi ilmu bahwa yang namanya gerhana pasti bulan purnama, tetapi bulan purnama tidak selalu gerhana.

Meskipun sejatinya, secara sains, bulan purnama itu bisa terjadi pada tanggal 13, 14, dan 15.

“Sesuai perintah Nabi Muhammad SAW, setiap tanggal 13, 14, dan 15 kita diajarkan untuk berpuasa hari putih. Mengapa putih? Karena meskipun malam tidak terasa malam atau gelap, melainkan putih karena ada cahaya bulan,” jelas Sugeng.

Secara awam, lanjut Sugeng, gerhana bulan itu bisa samar, parsial atau total. Ketika bulan berada di garis lurus dengan matahari, akan terjadi gerhana total.

Selain santri, warga juga ada yang datang ke Observasi Assalaam untuk ikut melakukan pengamatan dengan alat teropong canggih tersebut.

Menurut Mahrizal asal Kalioso Sragen, dia datang ke Ponpes Assalaam untuk ikut melakukan pengamatan, namun karena hujan tidak berhenti sampai malam, dia tak bisa melihat apa- apa .

Selain melakukan pengamatan sains, santri dan civitas akademika Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam juga melaksanakan salat gerhana di masjid setempat.

Salat gerhana (khusuf) dipimpin Ustadz M.Faisal Rabbani sebagai imam, dilanjut khutbah oleh Ustadz Ammar Ali Shahbal.

Usai salat gerhana, dilanjutkan salat terawih.

“Kegiatan ini  wujud nyata integrasi sains dan agama. Ketika teleskop kami terhalang mendung, keyakinan kami melalui hisab tetap teguh, bahwa ayat Allah sedang bekerja di balik awan,” ujar Ustadz Ammar.(Hasna)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini