SUKOHARJO, TERAS MEDIAGO.ID – Kirab budaya Grebeg Penjalin di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Sukoharjo, Jawa Tengah, berlangsung meriah.
Ribuan orang tumplek blek di depan panggung Kehormatan, menunggu gunungan tiba. Kegiatan berlangsung pada Kamis (9/10/2025).
Sejak pagi, di sepanjang jalan menuju Balai Desa Trangsan, dimana panggung kehormatan berada, sudah dipenuhi ribuan peserta dari anak-anak bocil sampai orang dewasa.
Ada 10 gunungan yang disiapkan para peserta, untuk diperebutkan ribuan warga yang sudah menyemut sejak pagi.
Setiap Rukun Warga (RW) menampilkan tema yang berbeda satu sama lain.
Ada yang membawa replika tikus besar berdasi, yang menggambarkan koruptor yang harus dibasmi.
Ada pula yang membawa replika kerbau raksasa, naga raksasa, hingga bola penjalin raksasa.
Ratusan anak-anak siswa SD dan SMP di sepanjang jalan memainkan hulahop dari rotan.
Satu persatu semua peserta tampil membawa atraksi keseniannya di depan panggung kehormatan.
Hadir Wakil Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo beserta jajaran Forkopimcam Gatak.
Dalam sambutannya, Wabup sangat mengapresiasi adanya Grebeg Penjalin Desa Trangsan yang sudah berjalan hingga 8 tahun.
“Semoga dengan adanya Grebeg Penjalin ini, semakin memperkuat pertumbuhan perekonomian di Desa Trangsan dan sekitarnya. Banyak tenaga kerja dari daerah lain, yang terserap di industri rotan ini,” kata Wabup Eko Sapto.
Ketua Panitia Grebeg Penjalin 2025, Suryanto menjelaskan, kegiatan sudah diawali sejak tanggal 3 Oktober sampai 11 Oktober 2025 besok.
“Berbagai kegiatan untuk memeriahkan Grebeg Penjalin ini sudah kami adakan, di antaranya gowes susur wilayah Desa Trangsan, bazar dan pameran produk rotan, serta panggung seni budaya,” jelas Suryanto.
Kades Desa Trangsan, Mujiman menambahkan, Grebeg Penjalin tahun ini bertema “Generasi Muda Bangkit, Bekerja Keras, Menuju Indonesia Emas”.
Dengan harapan, sampai kapanpun generasi muda harus melanjutkan keberhasilan industri rotan di Desa Trangsan ini.
” Kami berharap, dengan adanya peristiwa budaya kreatif ini, para generasi muda yang akan melanjutkan usaha ini, mampu menciptakan pasar baru dari produksi rotan,” ujar Kades Mujiman.
Kades menambahkan, Desa Trangsan mampu eksport produk rotan ke Eropa dan pasar luar negeri lainnya, sebanyak 150 – 200 kontainer.
“Di bazar Grebeg Penjalin tahun ini, kami berharap target Rp 500 juta dari para buyer bisa terpenuhi,” pungkas Kades Mujiman.
Saat 10 gunungan rotan dan hasil bumi tiba di depan panggung, setelah didoakan tokoh agama setempat, gunungan ludes dalam sekejab.
Seorang warga, Yuyun (50 tahun) mengaku senang bisa memperoleh sayuran.
“Saya mendapatkan sayuran dan tetangga saya ini dapat produk rotan gebuk kasur dan bola. Alhamdulillah seneng, seru saja. Hati terhibur melihat kirab, pesertanya cantik-cantik, lucu, ganteng, pokoknya seneng,” kata Yuyun tertawa.
Perlu diketahui, Desa Trangsan ini ditetapkan pemerintah sebagai Desa Wisata. Oleh Kemenkeu ditetapkan sebagai Desa Devisa, dan oleh Kemendikbudristek ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Grebeg Penjalin ditutup dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. (Hasna)









