Beranda Berita Utama Rhenald Kasali Support Petani Muda di Klaten Bersama Puskestan

Rhenald Kasali Support Petani Muda di Klaten Bersama Puskestan

65
0

KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Rhenald Kasali akademisi dan ekonom handal, mendorong penuh para petani muda di Klaten, Jawa Tengah, untuk terus berkiprah di dunia pertanian. Bentuk support tersebut ia tunjukkan dengan ikut terjun langsung menyewa sawah dan ikut terlibat mengikuti tradisi wiwitan, yang berlangsung di area persawahan Desa Sribit, Kecamatan Delanggu, Kamis (18/06/2026).

Tradisi wiwitan ini diadakan oleh founder Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan) Klaten yaitu dr Andreas Philip Avianto Wicaksono.

Meski seorang dokter, kiprahnya di dunia pertanian tak perlu diragukan lagi. Hal inilah yang mendorong Prof.Rhenald Kasali memutuskan menyewa sawah di Klaten.

Seperti pada tradisi wiwitan pada umumnya, diawali dengan kirab uborampe yang sudah disediakan. Ada ingkung ayam, nasi tumpeng, buah pisang, jajanan pasar, dan lain-lain.

Peserta kirab berjalan menuju sawah yang siap dipanen. Meski jalan menuju pematang sawah berlumpur, tidak menyurutkan semangat mereka.

Hal pertama yang dilakukan adalah berdoa kepada Tuhan, mengucapkan banyak terimakasih atas panen yang melimpah. Setelah itu, Rhenald Kasali bersama perwakilan petani setempat melakukan potong padi sebagai simbol padi siap dipanen.

Dilanjutkan prosesi meletakkan ‘takir’ yang berisi nasi urap beserta lauk pauk di pojok-pojok sawah. Setelah wiwitan selesai, uborampe tersebut dibagikan ke dalam pincuk untuk dimakan bersama.

Isinya pincuk ada nasi urap, tempe goreng, karak, ikan asin, jajanan pasar, buah pisang, dan lain-lain.

“Tradisi wiwitan dengan tema merawat panen merawat harapan ini, sebagai bentuk rasa syukur kami terhadap Tuhan yang telah memberi panen melimpah pada petani. Dengan merawat tradisi panen ini, kita juga merawat harapan bahwa masih ada hari esok yang lebih baik lagi bila kita bekerja menggarap sawah penuh semangat,” kata Avianto.

Di Klaten, Puskestan menawarkan kerjasama dengan para pemilik modal dan pemilik sawah yang bero atau terbengkelai. Sistem seperti ini sudah berjalan cukup lama dan sudah menggarap 45 hektar sawah di wilayah Klaten.

“Sampai saat ini sudah ada 45 hektar sawah bero yang kami garap. Paling banyak ada di wilayah Delanggu, Wonosari, Polanharjo, dan lain-lain,” jelasnya.

Selain itu, Puskestan juga sudah mendampingi ribuan petani se-Solo Raya.

Puskestan yang digawangi petani muda ini, berhasil mendirikan PT Komsah (Kompos Seresah) yang memproduksi pupuk organik dari dedaunan.

“Dengan memakai pupuk Komsah, tanah yang tandus kita olah dahulu sedemikian rupa, kita kembalikan kesuburannya agar bisa panen ideal,” ujarnya.

Untuk mengolah tanah bero, memang dibutuhkan biaya tinggi pada awalnya. Makanya pihak Puskestan memakai sistem kerjasama, agar tidak semakin banyak sawah yang bero.

Rhenald Kasali mengaku tertarik ikut menyewa sawah di Klaten sebagai bentuk dorongan kepada para petani muda agar tidak malu menjadi petani.

“Jaman sekarang, banyak anak muda yang enggan menjadi petani melanjutkan kerja orangtuanya. Karena mindset nya, menjadi petani itu susah, hasilnya sedikit. Sekarang kita rubah, menjadi petani itu keren, karena petani muda sekarang banyak menemukan cara-cara efektif dalam mengolah lahan, seperti yang dilakukan dokter Avi Puskestan ini,” kata Rhenald.

Sementara pakar agronomi, Prof.Widyatmoko yang juga pendiri Komsah, pihaknya membuka peluang kerja bagi 500an warga, terutama dari Gunung Kidul.

Karena bahan baku pupuk Komsah adalah dedaunan, sehingga banyak warga yang ‘setor’ daun kering.

“Dengan adanya Komsah, kami membuka peluang kerja bagi warga yang mau mengumpulkan dedaunan kering lalu dijual ke kami. Hasilnya lumayan, dalam waktu dua jam bisa menghasilkan Rp50.000,” jelas Widyatmoko.

Salah seorang peserta, Risca Maranita, mengaku sangat diuntungkan dengan adanya sistem kerjasama seperti ini. Sebagai pengusaha muda di bidang kuliner, dirinya ikut ambil bagian dalam menyewa sawah bersama Puskestan.

“Beras hasil panen kami gunakan sendiri untuk menyuplai warung yang kami miliki,” kata Risca.

Sebagai generasi muda, dirinya sangat bangga disebut sebagai petani. Dirinya berharap, semoga ke depan dunia pertanian lebih baik lagi dan banyak generasi muda yang ikut andil di dalamnya. (Hasna)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini