KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Satu kata, unik dan menarik!. Demikian kesan pertama kali melihat proses pembuatan pohon Natal di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Bunda Kristus yang berada di Dukuh Tanjunganom, Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Klaten, Jawa Tengah.
Pohon Natal setinggi enam meter ini terbuat dari susunan ratusan potong kayu dan bibit buah.
Menurut Rama Basilius Edy Wiyanto, Pr, selaku Pastor Kepala Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, pohon Natal dari kayu ini sudah dibuat sejak 10 hari yang lalu oleh umat dan tim kreatif.
“Karena para umat kalau siang bekerja, pohon Natal ini dibuat pada malam hari sampai pagi, secara pelan-pelan,” jelas Rama Edy Wiyanto, saat ditemui di lokasi gereja, Selasa (23/12/2025).
Dipilihnya bahan dasar kayu dan bibit buah, lanjut Rama Edy, mengandung arti tersendiri. Hal ini sebagai bentuk solidaritas Umat atas banyaknya peristiwa bencana alam di berbagai tempat, terutama banjir bandang di Sumatera yang membawa ribuan potong kayu berserakan.
“Tim kreatif kami membuat pohon Natal dari kayu, untuk memaknai bahwa pohon yang sengaja ditumbangkan atau tercerabut dari akarnya, masih ada harapan. Tema Natal tahun ini adalah Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga, dari situasi bencana tersebut, kami yakin pertolongan Allah itu nyata,” ujarnya.
Harapan tersebut disimbolkan dengan 180an bibit buah yang berada di sela-sela kayu. Rama Edy Wiyanto juga mengajak kepada semua umat, untuk merawat bibit pohon agar tumbuh dan berkembang sehingga bisa untuk menopang kehidupan.
Salah seorang tim kreatif, Bonifasius Bagaskara, mengatakan untuk membuat pohon Natal dari potongan kayu dan bibit buah ini, perlu perhitungan matang. Karena apa? Karena pohon tersebut dibuat melayang atau tidak menyentuh tanah. Sebagai penyangga atau penopang bukan lagi kayu besar tetapi sling berkekuatan 10 ton.
“Untuk berapa beratnya pohon Natal ini, kami belum tahu secara pasti. Namun kekuatan sling mampu menahan beban 10 ton, jadi aman,” kata Bagas.
Pohon Natal setinggi 6 meter ini, dibuat dengan bantuan cincin besi 5 buah dan kawat strimin, yang fungsinya untuk mengaitkan kayu yang ditali dengan kawat.
Semua bahan kayu didapatkan dari umat ada 36 paguyuban kecil di Paroki tersebut, masing-masing membawa tiga ikat kecil kayu.
Selanjutnya, setelah selesai perayaan Natal, bibit buah atau pohon tersebut, bisa dimiliki umat atau pihak gereja untuk ditanam.(Hasna)









