Beranda Berita Utama Tradisi Rasulan, Ratusan Warga Desa Wiro Kirab 8 Gunungan Menuju Masjid Tiban

Tradisi Rasulan, Ratusan Warga Desa Wiro Kirab 8 Gunungan Menuju Masjid Tiban

15
0

KLATEN, TERASMEDIAGO.ID – Ratusan warga Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah mengikuti tradisi Rasulan, Sabtu siang (19/09/2026).

Tradisi tersebut digelar setiap Bulan Bakdamulud, di Masjid Tiban Al-Islam Desa Wiro sebagai bentuk rasa syukur warga atas panen yang melimpah.

Menurut Kadus Desa Wiro, Aris Munandar, tradisi Rasulan ini secara rutin diadakan setiap tahun.

Tahun ini, ada delapan gunungan yang dikirab ratusan warga keliling kampung, sepanjang dua kilometer. Gunungan tersebut berisi aneka hasil bumi, jajanan anak-anak, buah sayur, uang kertas, dan lain-lain.

Sebagai ikon dalam tradisi tersebut adalah ingkung kambing kendit yang berada paling depan.

Menurut Aris, kendit itu artinya menyatunya harapan dan keinginan warga agar apa yang dilakukan di dunia ini sampai kepada Tuhan YME.

Untuk membuat ingkung, kambingnya jenis Jawa, dimana warna putihnya menyatu atau tidak putus dengan isi perutnya (jerohan).

“Ada delapan gunungan yang kami kirab dalam tradisi Rasulan ini. Untuk kambing kenditnya yaitu ingkung kambing Jawa warna putih yang menyatu atau tidak putus dengan isi perutnya,” kata Aris.

Sesampai di halaman Masjid Al-Islam, gunungan diatur sedemikian rupa. Untuk ingkung kambing kenditnya beserta uborampe lainnya, diserahterimakan dari panitia kepada Ketua Takmir Masjid, Sri Dariyanto.

Setelah kambing kendit dimasukkan dalam masjid, didoakan oleh tokoh agama dan diamini oleh ratusan warga.

Selesai berdoa, delapan gunungan tersebut langsung diperebutkan warga penuh suka cita.

Tidak hanya gunungan saja, isi tenongan warga juga dipersilahkan diambil.

Menurut Sri Dariyanto, kegiatan Rasulan ini diikuti warga yang terdiri dari 3 RW dan 8 RT. Setiap RT menampilkan satu gunungan yang diperebutkan.

Untuk kambing kendit dan gunungan tersebut, kata Dariyanto, sebagai bentuk pengorbanan warga.

“Wedus kendit ini warnanya putih. Dibuat ingkung sebagai bentuk syukur kepada Linangkung Allah SWT atas panen dan rejeki yang melimpah,” kata Sri Dariyanto.

Kegiatan Rasulan berlangsung selama tiga hari. Yaitu diawali dengan doa bersama, penampilan seni reog, pentas karawitan, kirab budaya, dan pagelaran wayang kulit.

Salah satu warga, Sri Wahyuni mengaku senang bisa mengikuti kegiatan Rasulan yang diadakan setiap tahun.

Untuk memeriahkan kegiatan tersebut, setiap keluarga membawa satu tenong yang berisi nasi putih, aneka lauk, ingkung, dan buah.

Saat prosesi rebutan gunungan, dirinya ikut serta. Meskipun berdesakan, ia mendapatkan aneka sayur. Meski tak seberapa yang ia peroleh, namun hatinya sangat senang.

“Alhamdulillah, hari ini saya bisa ikut tradisi Rasulan di Desa Wiro. Saat rebutan tadi saya juga ikut, ini mendapatkan aneka sayuran bisa dimasak nanti untuk keluarga,” kata Wahyuni.

Salah seorang panitia, Yoga Pratama Putra menjelaskan, bahwa kegiatan Rasulan ini bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dimana masyarakat Desa Wiro mempunyai keyakinan bahwa pada bulan kelahiran Rosul Nabi Muhammad SAW, bahwa Rasul itu sebagai rahmat.

“Kita mendapati semua tanaman dan ternak menjadi subur. Tradisi ini sebagai bentuk wujud syukur kami,” kata Yoga.

Yoga melanjutkan, tradisi ini sebagai bentuk napak tilas, seperti yang dilakukan oleh keraton-keraton, para Wali terdahulu untuk bersih desa. Memperingati Kelahiran Kanjeng Rosul Nabi Muhammad SAW.

Yoga juga menjelaskan, bahwa Masjid Al-Islam ini dulunya masjid tiban seperti halnya masjid tiban Golo Bayat dan Masjid Puluhan Trucuk, Klaten. (Hasna)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini