Beranda Berita Utama Bekas Rumah Dinas Rutan di Banyumas Dijadikan Kafe Pemberdayaan Warga Binaan

Bekas Rumah Dinas Rutan di Banyumas Dijadikan Kafe Pemberdayaan Warga Binaan

224
0

BANYUMAS, TERASMEDUAGO.ID— Sebuah rumah dinas lama di kawasan Kota Lama, Kabupaten Banyumas, kini memiliki wajah baru.

Bangunan yang sebelumnya merupakan rumah dinas Kepala Rumah Tahanan Negara Banyumas tersebut disulap menjadi kafe sekaligus pusat pemberdayaan warga binaan melalui program kemandirian.

Tempat ini dikelola Kriya Abibraya Kota Lama Banyumas yang bekerja sama dengan Bapas Purwokerto dan kelompok masyarakat peduli pemasyarakatan.

Program ini memberikan kesempatan kepada klien pemasyarakatan yang telah mendapatkan disposisi dan menjalani asimilasi untuk kembali produktif di tengah masyarakat.

Pengelola Griya Abipraya, Wahyu Baharudin, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan ruang usaha yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga sosial.

Para warga binaan diberdayakan di sejumlah bidang, mulai dari layanan cuci mobil dan cuci motor hingga pengelolaan kafe.

“Harapan kami, kehadiran tempat ini bisa mengubah stigma masyarakat terhadap mantan narapidana. Kami ingin menunjukkan bahwa mereka mampu bekerja, mandiri, dan memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.

Tak sekadar menjadi tempat bersantai, kafe ini juga menawarkan beragam menu dengan harga terjangkau, mulai dari Rp8.000 hingga Rp20.000. Menu andalan seperti sop daging kulit sapi atau “kultik”, nasi goreng, dan aneka hidangan lainnya menjadi favorit pelanggan, terutama saat musim hujan dan momen berbuka puasa.

Dalam sehari, penjualan menu unggulan bahkan dapat mencapai 30 hingga 40 porsi.

Respon masyarakat pun terbilang positif. Lokasinya yang strategis di pusat kota dan bersebelahan dengan Rutan Banyumas membuat kafe ini mudah diakses warga.

Salah satu pelanggan, Handayani, mengaku menyukai cita rasa kuah yang segar dan daging yang empuk, dengan harga yang dinilai ramah di kantong.

Bagi para klien pemasyarakatan, kesempatan bekerja ini menjadi titik balik kehidupan. Tetuko, salah satu pekerja, mengaku bersyukur mendapat peluang tersebut setelah menjalani asimilasi.

Berbekal pengalaman di bidang food and beverage saat merantau di Jakarta, ia kini menambah keterampilan, baik di layanan cucian kendaraan maupun di dapur kafe. Ke depan, ia berharap dapat membuka usaha sendiri dari ilmu yang telah diperolehnya.

Melalui program ini, pengelola berharap masyarakat semakin terbuka dan menerima kehadiran mantan narapidana sebagai bagian dari lingkungan sosial.

Kehadiran kafe pemberdayaan ini menjadi bukti bahwa dengan kesempatan dan dukungan bersama, warga binaan mampu bangkit, mandiri, dan kembali berkontribusi secara positif.(SN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini