Beranda Berita Penyerapan Jagung Pipil Rendah, Perum Bulog Cabang Semarang Lakukan Sosialisasi

Penyerapan Jagung Pipil Rendah, Perum Bulog Cabang Semarang Lakukan Sosialisasi

79
0
Suasana sosialisasi.(Foto:SJ/ Likwi)

KENDAL, SAPA Jateng.id– Perum Bulog Cabang Semarang melakukan sosialisasi penyerapan jagung pipil kering di Aula DPUPR Kendal, dengan melibatkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Bhabinkamtibmas, Kamis(4/09/2025).

Sosialisasi ini dilaksanakan lantaran penyerapan jagung pipil kering oleh Bulog Cabang Semarang saat ini masih sangat rendah. Terlebih Kabupaten Kendal merupakan salah satu wilayah yang hasil panen jagungnya cukup besar di Jawa Tengah.

Kepala Bulog Cabang Semarang, Rendy Ardiansyah mengatakan, penyerapan jagung pipil kering masih sangat rendah. Dari target sekitar 10.8 ton masih terealisasi sekitar 420 ton atau hanya 3,8 persen.

Hal ini lantaran harga jagung yang ditawarkan oleh pihak tengkulak di lapangan lebih tinggi yaitu Rp 6.000 perkilogram untuk jagung pipil kering dengan kadar air diatas 15 persen, sementara di bulog Harga Pembelian Pemerintah (HPP) adalah Rp 5.500 perkilogram.

“HPP jagung yang naik menjadikan harga di swasta juga ikut naik. Sehingga petani lebih tertarik menjual di pasaran karena harganya lebih tinggi,” katanya.

Sementara untuk harga jagung pipil kering kadar air di bawah 14 persen dipatok bulog dengan harga Rp 6.400 perkilogram, sementara di pasaran dibeli Rp 6.500 perkilogram.

“Saya menyarankan agar petani bisa mengeringkan jagungnya cukup dua hari ke depan agar kadar airnya sesuai dengan bulog, sehingga harga yang diterima lebih bagus,” ujar Rendy.

Rendy berharap melalui sosialisasi ini penyerapan panen jagung pipil kering oleh bulog dapat lebih maksimal.

“Mengingat Kabupaten Kendal merupakan penghasil jagung terbesar nomor 3 di Jawa Tengah bisa semakin membantu bulog terkait penyerapan jagung,” harapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati menyampaikan, petani jagung di Kendal saat ini lebih memilih menjual hasil panennya ke para tengkulak lantaran harga yang ditawarkan lebih tinggi dari bulog.

“Kadar air yang di atas 15 persen akan dibeli bulog Rp 5.500 perkilogram kalau di pasaran harganya Rp 6.000. Ada selisih Rp 500 perkilogram. Tentunya kita tidak bisa memaksa petani menjual ke bulog,” kata Pandu.

Pandu mengatakan, bulog akan membeli jagung dengan harga Rp 6.400 tetapi dengan syarat kadar air di bawah 14 persen.

“Itu syaratnya tidak gampang, petani harus jemur dan sedemikian rupa baru dari bulog akan membeli dengan harga Rp 6.400 perkilogram. Cuma petani kita melakukan penjemuran kadarnya diatas 14 persen,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengatakan, melalui sosialisasi ini petani akan memahami bahwa jagung yang diserap bukan menjadi milik bulog, melainkan sebagai cadangan jagung pemerintah (CJP) dan pendistribusiannya sesuai kebijakan pemerintah.

“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat, menumbuhkan optimisme kita semua, terjalin kolaborasi, kerja sama dan sinergitas lebih baik yang bermuara pada meningkatnya perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” harapnya.(Likwi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini