PURWOKERTO, TERASMEDIAGO.ID-Seiring perjalanan waktu boleh berlalu, generasi boleh berganti, namun cinta terhadap almamater tak pernah benar-benar usai.
Itulah yang terasa dalam gelaran halal bihalal dan temu alumni lintas generasi di SMA Negeri 1 Purwokerto, sebuah momen yang bukan sekadar temu kangen, tetapi juga perjalanan pulang bagi ratusan hati yang pernah ditempa di tempat yang sama.
Di tengah perubahan kebijakan pendidikan yang menghapus istilah sekolah favorit, SMA Negeri 1 Purwokerto justru menghadirkan makna baru, sekolah sebagai rumah. Rumah yang menyimpan kenangan, harapan, sekaligus titik awal dari beragam perjalanan hidup.
Kepala sekolah, Tjaraka Tjunduk Karsadi, menyebut sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) saat ini sebagai langkah menuju pemerataan.
Jalur prestasi yang dahulu menjadi primadona kini hanya sekitar 30 persen, sementara sisanya terbagi ke jalur afirmasi, domisili, hingga perpindahan tugas orang tua.
“Semua sekolah sekarang dituntut menjadi favorit dengan caranya masing-masing,” ujarnya.
Namun, di balik angka-angka dan regulasi, ada cerita yang lebih dalam. Ruang-ruang kelas kini menjadi ruang pertemuan berbagai latar belakang. Di sana, mimpi-mimpi yang berbeda tumbuh bersama, saling menguatkan, dan perlahan menemukan jalannya.
Suasana haru begitu terasa ketika para alumni, dari lulusan pertama hingga generasi terbaru, kembali menapaki halaman sekolah.
Tawa pecah di sudut-sudut yang dulu menjadi saksi masa remaja, sementara mata tak jarang berkaca-kaca mengingat waktu yang tak bisa diulang.
Salah satu yang hadir adalah Sedjatiningsih, alumni angkatan pertama tahun 1961. Di usianya yang tak lagi muda, ia tetap menyempatkan diri datang dari Gombong, Kebumen, sebuah perjalanan yang didorong oleh cinta yang tak pernah pudar pada almamaternya.
“Kalau yang di Purwokerto tinggal dua orang, tapi kalau di Jakarta masih banyak teman seangkatan,” tuturnya dengan senyum yang menyimpan kenangan panjang. Baginya, SMA Negeri 1 Purwokerto tetap yang terbaik, dari dulu hingga kini.
Cerita-cerita seperti miliknya mengalir hangat di antara para alumni. Tentang masa muda yang sederhana, tentang perjuangan yang tak selalu mudah, hingga tentang mimpi yang kini telah menjadi nyata.
Di tengah nostalgia, semangat masa depan juga terasa kuat. Kehadiran siswa-siswa berprestasi menjadi bukti bahwa estafet keunggulan terus berjalan.
Nama-nama seperti Adhli Rama Rafli, peraih medali perunggu Olimpiade Sains Nasional (OSN) Geografi 2025 di Malang, menjadi inspirasi bagi adik kelasnya.
Begitu pula Leonard Irvin Gunadi yang meraih medali emas OSN Kimia tingkat nasional, serta Yugo Deandra Wirayuda dengan medali perunggu di bidang astronomi.
Bagi para siswa, kehadiran alumni bukan hanya nostalgia, tetapi cermin masa depan. Bahwa dari ruang kelas yang sama, jalan hidup bisa terbentang sejauh yang mereka impikan.
Bagi Djoko Susanto, seorang pengacara kondang sekaligus Ketua DPC Peradi SAI Purwokerto itu, reuni bukan sekadar acara makan bersama atau formalitas tahunan. Lebih dari itu, reuni adalah ruang untuk menumbuhkan kembali rasa percaya diri dan memperkuat jati diri.
“Ini bukan sekadar kumpul-kumpul, tapi momen yang bermakna,” ujarnya.
Halal bihalal dan temu alumni ini pun menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah almamater tidak hanya terletak pada sistem pendidikan atau deretan prestasi, melainkan pada ikatan yang terjalin di dalamnya.
SMA Negeri 1 Purwokerto percaya, hubungan antargenerasi adalah energi yang menjaga semangat tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Pertemuan seperti ini diharapkan terus menjadi jembatan, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Sebab pada akhirnya, sekolah bukan hanya tentang belajar dan lulus. Ia adalah tempat pulang, ke ruang di mana kenangan pertama, harapan yang tumbuh, dan cinta terhadap ilmu bersemi, lalu tinggal selamanya di hati.(DN)









