KLATEN, SAPA Jateng.id – Sebanyak 11 gunungan hasil bumi, 1 ingkung kambing kendit, serta ratusan tenongan, meriahkan rangkaian kegiatan bersih desa Wiro, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (30/08/2025).
Gunungan tersebut dikirab ratusan warga sepanjang satu kilometer, dari Dukuh Wiro menuju halaman masjid Al-Islam.
Di sepanjang jalan, ratusan warga sudah menyemut ingin melihat dari dekat jalannya prosesi kirab.
Sesampai di halaman masjid, semua ubo rampe diserahkan ke takmir masjid, untuk didoakan. Setelah itu, gunungan diperebutkan warga. Dalam gunungan tersebut juga ada uang kertas seratus ribu dan pecahan.
Menurut panitia sekaligus takmir masjid, Sridaryanto, kegiatan ini sebagai bentuk wujud syukur warga yang sudah diberi banyak kenikmatan dari Tuhan YME.
Kenikmatan tersebut berwujud panen melimpah dan rejeki yang diterima dari berbagai pekerjaan warga.
“Wujud syukur warga dengan cara seperti ini, kirab budaya dan saling berbagi atau sodakoh. Warga berharap, sedekah yang mereka keluarkan, pasti akan kembali baik,” kata Sridaryanto.
Yang ikut kirab budaya ini ada 280 kepala keluarga terdiri dari 3 RT 2 RW.
Dalam tradisi tersebut, warga membawa tenongan berisi nasi gurih, sayur lombok ijo, dan lauk pauk. Setelah didoakan oleh ulama, nasi tersebut dinikmati bersama-sama atau kembul bujono di dalam masjid.
“Agar lebih praktis, makanan tersebut dikemas dalam mika agar mudah dibagikan kepada warga lain, lalu kita nikmati bersama. Untuk kambingnya dinikmati pada malam hari karena masih mentah,” lanjut Sridaryanto.
Kegiatan bersih desa ini sudah berlangsung sejak hari Kamis 27 Agustus 2025 yaitu dibuka dengan karawitan.
Dilanjut berikutnya hari Jumat, penampilan karawitan anak-anak Cindelaras dan Jathilan 3 kelompok, serta malam dilanjut doa bersama dzikir tahlil.
Sebagai puncaknya hari Sabtu kirab budaya dan malamnya pertunjukan wayang kulit.
Salah seorang warga yang ikut berebut gunungan, Kustini dari Trucuk, mengaku senang meski harus berdesakan.
“Ini dapat sayur dan uang Rp5.000, rasanya senang banget. Sayurnya nanti dimasak lumayan tidak belanja. Kalau uangnya nanti saya simpan untuk kenang-kenangan,” kata Kustini.
Tradisi bersih desa ini juga untuk mempererat tali silaturahmi antar warga agar persaudaraannya semakin erat.(NiK)









