Beranda Berita Peringati Hari Batik Nasional, Disperinaker Adakan Nyanting Bareng Bupati

Peringati Hari Batik Nasional, Disperinaker Adakan Nyanting Bareng Bupati

57
0

KLATEN, SAPA Jateng.id – Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional (HBN) 2025, sejumlah kegiatan digelar oleh Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker).

Kegiatan yang dikemas dalam Batik Klaten Mini Fest (BKMF) dimulai tanggal 2 sampai 5 Oktober 2025.

Untuk hari pertama, BKMF diawali dengan nyanting bersama Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, Kamis (2/10/2025) di kantor Disperinaker Jalan Pramuka, Klaten.

Dalam kesempatan tersebut, bupati yang datang pada sesi pagi, mengawali membatik dengan kuas dan canting pada selembar kain besar.

Lalu diikuti sekitar 30 masyarakat umum yang tertarik dengan workshop batik tersebut.

Selain itu, ada 9 stand yang menawarkan aneka macam corak batik. Ada batik cap, batik tulis, batik warna alam, dan lain-lain. Perajin berasal dari Bayat, Prambanan, Wedi, dan Juwiring.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo berharap, dengan diadakannya BKMF ini, batik khas Klaten semakin dikenal banyak masyarakat.

Tidak hanya tingkat nasional, bahkan berharap sampai internasional.

“Kalau kain lurik asal Klaten, sudah banyak yang tahu. Namun untuk batik, kita perlu kerja keras untuk promosi. Ada batik khas asal Klaten yaitu batik motif sindu melati, ini yang tengah kita gencar kita promosikan,” kata bupati.

Kepala Disperinaker Klaten, Luciana Rina Damayanti menjelaskan, kegiatan BKMF selanjutnya yaitu hari kedua, edukasi mini siap kerja dan produktivitas (Enisitas), disusul hari ketiga kegiatan ngecraf bareng perca batik dan hari terakhir ditutup dengan senam sehat dan catwalk on the street.

“Puncaknya adalah catwalk on the street yang kami harapkan berlangsung meriah,” kata Rina.

Terkait batik sindu melati khas Klaten, Rina menerangkan kalau sindu itu air dan melati. Sehingga dalam selembar kain, ada perpaduan motif melati dan air (rowo).

Rina berharap, dengan kegiatan ini, selain untuk melestarikan kekayaan budaya, sekaligus menyupport perajin batik.

Salah seorang perajin batik asal Desa Jarum, Bayat, Suratmi, dengan ikut kegiatan ini dirinya bisa menularkan ilmunya dengan peserta lainnya yang masih belajar.

“Regenerasi membatik itu harus ada, agar kekayaan budaya kita tidak punah. Membatik itu susah, harus sabar dan dengan hati. Meskipun susah, bukan berarti tidak bisa,” kata Suratmi penuh semangat.

Kesehariannya, Suratmi memproduksi batik warna alam dan sesuai permintaan konsumen. Untuk satu potong kain batik tulis rata-rata seharga Rp 500.000.
(Hasna)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini